Take a fresh look at your lifestyle.

Di Pasar Tradisional, Harga Minyak dan Cabai Melambung

67

SLAWI, smpantura.com – Harga sejumlah bahan pangan terpantau naik di pasar tradisional jelang tutup 2021. Mulai dari minyak goreng, cabai merah besar, cabai keriting, cabai hijau, telur ayam ras dan ayam potong.

Hasil pemantauan di Pasar Trayeman Slawi, harga minyak curah yang dipasaran dijual Rp 12.000 per kilogram, pada Senin (8/11) sudah menembus Rp 17.800 per kilogram dan di tingkat eceran Rp 19.000 per kilogram (kg). Kenaikkan harga juga dialami minyak goreng kemasan dari berbagai merek. Kenaikkan harga berkisar Rp 1.000 sampai Rp 1.500 per liter. Harga minyak kemasan di pasaran berkisar Rp 17.500 dan Rp 18.000 per liter.

Sementara itu, berbagai jenis cabai mengalami kenaikkan harga sejak sepekan ini. Mala (34), pedagang di Pasar Trayeman mengatakan, cabai merah besar yang biasanya dijual Rp 14.000 per kilogram pada pekan lalu, naik menjadi Rp 28.000 per kilogram. Cabai keriting dari Rp 25.000/kg menjadi Rp 40.000/kg, cabai hijau dari Rp 13.000/kg naik menjadi Rp 18.000/kg.
“Biasanya kalau ada pengiriman cabai ke Jakarta, harganya akan naik,”terang Mala terkait penyebab naiknya harga cabai di pasaran.

Seperti minyak goreng dan cabai yang mengalami kenaikkan harga, harga telur juga melambung. Dian (32) pedagang sembako menyebutkan, harga telur kemarin menembus Rp 24.000/kg atau naik Rp 2.000 dibanding sehari sebelumnya yang Rp 22.000/kg.

Sementara harga ayam potong yang biasanya dipasarkan Rp 35.000/kg kemarin menembus Rp 38.000-Rp 40.000/kg. Susyanti (50) mengatakan, kenaikkan harga berpengaruh terhadap penjualan ayam di lapaknya. “Biasanya sehari bisa terjual 60 sampai 70 ekor,sekarang maksimal 40 ekor,”jelasnya.

Kenaikkan harga minyak goreng diakui Sholeh (49) pemilik toko kelontong di Desa Dukuhjati Kidul, Kecamatan Pangkah mengaku kenaikkan harga minyak saat ini tertinggi selama dia berjualan minyak goreng sejak tahun 2006. “Kenaikkan harga sudah terjadi dua bulan lalu. Minyak curah dari Rp 12.000 per kilogram naik menjadi Rp 17.800 per kilogram dan ecerannya mencapai Rp 19.000 per kilogram,”jelas Sholeh.

Menurutnya, harga minyak curah saat ini lebih tinggi dibanding minyak kemasan. Hal ini menyebabkan konsumen beralih membeli minyak kemasan. “Mau tidak mau sebagai penjual, saya ikut menaikkan harga jual ke konsumen,”terang Sholeh.

Sementara itu, Bahman (69) penjual lauk keliling menyebutkan, kenaikkan harga minyak goreng , telur dan cabai memberatkan dirinya. Untuk berjualan lauk, dia membutuhkan 2 liter minyak goreng untuk keperluan memasak selama dua hari.

“Biasanya saya beli minyak goreng Rp 13.500 per liter, sekarang sudah Rp 18.500 per liter. Padahal jualan makanan seperti ini tidak bisa menaikkan harga. Kalau naik, nanti tidak laku,”kata warga Slawi Kulon RT 4 RW 8 ini.

Bahman menyebutkan, harga telur yang mencapai Rp 22.000/kg juga mengakibatkan keuntungan yang diperoleh semakin tipis.
“Telur balado isi dua biji saya jual Rp 6.000. Kalau dulu telur Rp 17.000 per kilogram, saya masih bisa dapat untung, sekarang harga telur Rp 22.000 per kilogram, ya untuk sementara cuma ikut makan saja, untuk kegiatan saja,”terang Sholeh. (T04-red)

BERITA LAINNYA