Take a fresh look at your lifestyle.

Dari Batik Ciprat, Penyandang Disabilitas Pun Mampu Berkarya

171

SLAWI, smpantura.com Keterbatasan fungsi organ tubuh, bukan berarti tidak bisa bekerja, berkarya, berprestasi, dan hidup mandiri. Mereka tetap bisa beraktivitas, bekerja bahkan berprestasi . Di Kabupaten Tegal misalnya, untuk memberdayakan sekelompok disabilitas, diantaranya dengan memberikan pelatihan membuat batik ciprat.

Pelatihan batik ciprat diberikan kepada penyandang disabilitas intelektual pada September 2021 di Rumah Singgah Trengginas, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal. Workshop menghadirkan sejumlah pelatih dari Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Intelektual “Kartini”, Temanggung , yang merupakan lembaga pelayanan kesejahteraan sosial bagi penyandang disabilitas intelektual.

Dari kegiatan tersebut, saat ini telah dibentuk dua Sentra Workshop Peduli (SWP) Trengginas di Desa Dukuhsalam, Kecamatan Slawi dan Desa Bulakpacing, Kecamatan Dukuhwaru. Sejak akhir Oktober lalu, SWP Trengginas di dua desa tersebut rutin memberikan pelatihan kepada 40 penyandang disabilitas intelektual atau tuna grahita.
Penyandang disabilitas dewasa terlihat antusias mengikuti pelatihan yang diberikan pada kader SWP Trengginas binaan Dinas Sosial Kabupaten Tegal. Seperti terlihat di tempat pelatihan SWP Trengginas Desa Dukuhsalam, pada Rabu (10/11) lalu.

Sebanyak sepuluh peserta bersama-sama praktik membuat batik ciprat. Dengan gembira mereka menciprat-cipratkan malam cair menggunakan kuas cat di atas dua lembar kain primis sima beukuan 2,15 x1,35 meter yang dibentangkan di dua buah gawangan peralon.

Setelah proses ciprat selesai, dipandu para kader SWP , mereka mengoleskan pewarna remasol berbagai warna yang telah disiapkan dalam wadah embe plastik.. Ada biru, kuning, jingga dan hijau. Proses pewarnaan dilakukan menggunakan alat sederhana berupa kayu yang bagian ujungnya diberi busa.

“ Ini diwanai, mbak Anggun, sebelah sini diberi warna biru ya, mbak Tirta di sebelah sini ya,”ucap Diah Ayu Tantri, salah satu kader SWP saat memberi arahan kepada peserta pelatihan.

Apa yang dikerjakan Anggun dan Tirta juga diikuti oleh Dimas dan peserta lainnya. Mereka tak mau ketinggalan mengoleskan warna lain di bagian kain yang masih kosong. “Ayo dibonteng-bonteng. Tempat yang masih kosong diwarnai,”imbuh Tantri yang siang itu didampingi kader SWP lainnya, Rita Kartikasari, Nurvivi Andriyani dan Indra Erafani .

Tantri menyebutkan, pembuatan batik ciprat cukup sederhana. Bila cuaca cerah, dalam sehari mereka bisa menyelesaikan satu lembar batik ciprat. Pembuatan batik ciprat ini melalui serangkaian proses. Dimulai dari mencipratkan cairan malam , pewarnaan, mengunci warna dengan waterglass. Kemudian, mencuci dan mengeringkan kain. Setelah kain kering, dilanjutkan proses mencipratkan malam untuk kedua kalinya, dan mengeblok dengan warna hitam atau warna lain sesuai pesanan.

Kain yang telah diblok warna hitam kemudian dikunci dengan waterglass. Setelah kering , kain dicuci dan dilakukan proses pelorotan atau perebusan untuk membersihkan lapisan malam. “Prosesnya seperti membuat batik biasa, tapi untuk teman-teman disabilitas seperti ini , belum bisa membuat batik halus atau yang rumit seperti batik Tegal,”ujarnya.

Tantri menyebutkan, dengan pelatihan batik ciprat ini , penyandang disabilitas tuna grahita memiliki kesibukan dan lebih produktif. Dan tidak menutup kemungkinan, setelah pelatihan mereka membuka usaha sendiri.“Teman-teman difabel ini tidak ada kegiatan di rumah. Dengan adanya workshop peduli mereka memiliki kegiatan yang produktif. Tidak banyak teman-teman difabel yang diterima di tempat-tempat kerja,meskipun pemerintah mewajibkan menyediakan lapangan kerja bagi difabel dari satu persen dan sekarang menjadi dua persen belum terpenuhi,”jelas Tantri.

Pelatihan tersebut mendapat dukungan dari Kepala Desa Dukuhsalam Agus Riyadi. Tak hanya menyediakan tempat tinggalnya di Jalan Teuku Umar RT 1 RW 5 Desa Dukuhsalam sebagai tempat pelatihan membatik bagi penyadang disabilitas, tetapi juga snak setiap kali pelatihan.

Tantri mengatakan, batik ciprat buatan penyandang disabilitas ini mulai dilirik konsumen. Sejumlah pesanan datang dari instansi. Selain untuk seragam juga dijadikan suvenir bagi tamu. Harga batik ciprat ini dibanderol Rp 150.000 per lembar. Hasil penjualan kain batik selain untuk membeli bahan-bahan juga diberikan kepada peserta.

Tirta Wulan Tumanggal (25) salah seorang peserta pelatihan mengaku senang mengikuti pelatihan membuat batik ciprat. Warga Desa Dukuhringin RT 5 RW 6 Kecamatan Slawi ini ingin menekuni usaha batik ciprat setelah selesai pelatihan. “Pengen, sama teman ,”ujar Tirta.

Keinginan yang sama juga diutarakan Anggun (22) warga Desa Slawi Wetan RT 20 RW 7. “Senang ikut pelatihan, di rumah tidak ada kegiatan, paling nyuci baju,”ujar Anggun. (T04-red)

BERITA LAINNYA