Take a fresh look at your lifestyle.

Batal UNBK Di Tengah Corona

315

Oleh Dr. Fahrudin Eko Hardiyanto, M.Pd.

 

Wabah Corona telah menghentakkan dunia dalam sikap siap siaga. Kesadaran akan pentingnya menjaga diri dan lingkungan dari penularan virus yang membahayakan kehidupan. Berbagai kebijakan dalam rangka upaya pencegahan penularan wabah pandemi virus Corona (Covid-19) dilakukan oleh semua instansi baik pemerintah maupun swasta, tak terkecuali dalam wilayah dunia pendidikan. Pelaksanaan pendidikan dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi memberlakukan pembelajaran jarak jauh non-tatap muka atau dengan menggunakan metode dalam jaringan (daring). Seluruh siswa ‘dirumahkan’ dalam mengikuti proses pembelajaran.

Pada konteks pembelajaran daring/jarak jauh, hal ini dilakukan untuk memberi pengalaman belajar yang bermakna, tanpa terbebani tuntutan untuk menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan. Pembelajaran non-tatap muka dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup, sehingga aktivitas dan tugas pembelajaran dapat bervariasi antar siswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah. Hal ini telah menjadi kebijakan Mendikbud RI.

Bagaimana faktanya? pembelajaran daring seolah menjadi keharusan untuk dilaksanakan sebagai pengganti pembelajaran tatap muka di kelas. Tak ayal banyak sekolah di daerah perdesaan dan yang sulit terakses jaringan internet mengalami tingkat kesulitan belajar selama masa tanggap darurat Covid-19 ini. Sekolah banyak menerapkan penugasan jarak jauh bukan pembelajaran jarak jauh. Tumpukan tugas dari berbagai mata pelajaran menjadi pekerjaan baru yang mau tidak mau harus ‘dinikmati’ oleh para siswa dan bahkan orang tua siswa.

Dalam kondisi yang penuh kewaspadaan seperti ini, tak banyak pilihan yang dapat diambil selain patuh pada himbauan dan kebijakan yang dipilih oleh pemerintah. Dalam konteks melawan penyebaran virus, Presiden Jokowi menggelorakan slogan “Bekerja, Belajar, dan Beribadah dari Rumah” sebagai pemutus mata rantai penularan virus Corona pada masa darurat Covid-19 ini di tengah masyaakat luas.

Apa sajakah kebijakan pendidikan dalam masa darurat Covid-19 terutama yang berkaitan dengan penilaian pembelajaran?. Ujian Nasional (UN) tahun 2020 dibatalkan. Inilah salah satu keputusan penting yang diambil oleh pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan setelah mengalami proses diskusi, rekomendasi, dan evaluasi strategis dengan berbagai pihak, diantaranya yakni rapat bersama Mendikbud dengan DPR RI, dan juga usulan pembatalan Ujian Nasional Tahun 2020 yang disampaikan oleh Badan Standard Nasional Pendidikan (BSNP) melalui surat yang dikirim kepada Mendikbud tertanggal 23 Maret 2020. BSNP merupakan badan mandiri dan independen yang berwenang menyelenggarakan Ujian Nasional berdasarkan PP Nomor 19 Tahun 2005.

Pembatalan UNBK dari semua jenjang satuan pendidikan merupakan langkah yang tepat dan sangat strategis dalam rangka melindungi kemaslahatan dan keselamatan bangsa terutama para pserta didik, pendidik,dan tenaga kependidikan dari kontak sosial langsung dengan orang lain secara massal. Tak perlu memaksakan diri untuk menggelar UNBK disaat ancaman nyawa di depan mata. Keikutsertaan dalam UN tidak menjadi syarat kelulusan sekolah atau seleksi masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

 

Hal ini juga merupakan kebijakan yang diambil pemerintah. Lantas bagaimana menentukan kelulusan siswa? Pemerintah pun telah menentukan kebijakan untuk menjadikan Ujian Sekolah sebagai dasar kelulusan, jika Ujian Sekolah belum diselenggarakan, maka sekolah dapat menggunakan nilai raport pada lima semester terakhir yang telah ditempuh oleh siswa. Sungguh, ini adalah etos merdeka belajar dengan berbagai kearifan regulasi akademik yang adil dan berkemajuan.

 

Sudah saatnya pula menjadikan kriteria akhlak, moralitas, dan atau karakter sebagai penilaian utama untuk menentukan seorang siswa dapat naik kelas atau tidak, lulus sekolah atau tidak. Bukan sekadar kecerdasan kognitif yang ditunjukkan hanya dalam 4 hari UNBK.
Selalu saja, ada hikmah dibalik semua musibah. Mari berbaik sangka dan terus berbenah. (Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)
Universitas Pekalongan)

BERITA LAINNYA