Take a fresh look at your lifestyle.

Bantuan Converter Diduga Picu Kelangkaan Gas 3 Kg

169

SLAWI – Kelangkaan LPG 3 kilogram (Kg) di sejumlah wilayah Kabupaten Tegal, diduga akibat bantuan mesin converter dari Kementerian Pertanian untuk pompa air pertanian. Kini, mesim pompa air tidak lagi menggunakan BBM, tapi menggunakan gas LPG. Selain itu, kelangkaan juga disebabkan banyaknya masyarakat yang menggelar hajatan di bulan-bulan ini.

“Sejak awal bulan Agustus sudah mulai kelangkaan gas 3 Kg,” kata salah satu warga Balapulang Wetan, Kecamatan Balapulang, Dian (30), Senin (19/8).

Dikatakan, kelangkaan gas 3 Kg di Balapulang membuat warga harus berebut membeli langsung ke agen. Sedangkan, gas di pengecer sudah tidak kebagian. Ia terpaksa menitipkan tabung kosong ke pengecer agar mendapatkan bagian gas 3 Kg.

“Sudah seminggu nitip di warung, tapi belum juga dapat. Terpaksa, beli tabung gas yang 15 Kg,” terangnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Tegal, M Khuzaeni juga mendapatkan keluhan masyarakat terkait dengan kelangkaan tabung gas 3 Kg. Masyarakat kebingungan mencari tabung gas 3 Kg di warung-warung. Setelah dirinya mengkonfirmasi pihak distributor LPG wilayah Slawi, diperoleh keterangan konsumsi tabung gas 3 Kg meningkat tajam. Hal itu diduga akibat banyaknya masyarakat yang menyelenggarakan hajaran.

“Memang lagi banyak hajaran di masyarakat. Kalau misalkan sekali hajatan menyedot 20 tabung gas 3 Kg, maka jatah untuk masyarakat umum berkurang,” ujar politisi Golkar itu.

Lebih lanjut dikatakan, informasi kelangkaan gas 3 Kg yang diperoleh dari sumber masyarakat, juga akibat bantuan converter mesin diesel untuk pertanian. Mesin converter itu digunakan untuk mengubah konsumsi bahan bakar minyak (BBM) menjadi gas. Sementara itu, petani menggunakan gas 3 Kg untuk menyalakan mesin diesel penyedot air. Kondisi itu bisa dipahami karena musim kemarau membutuhkan banyak diesel untuk mengaliri lahannya.

“Informasinya, bantuan converter mencapai 1.500 unit. Jika 1 unit diesel membutuhan empat buah tabung 3 Kg, maka mengurangi konsumsi masyarakat cukup banyak,” jelas Jeni.

Ditambahkan, kondisi itu harus disikapi Pertamina dengan menambah quota tabung 3 Kg. Pasalnya, penggunaan tabung gas 3 Kg untuk pertanian merupakan kebijakan dari Kementerian Pertanian, sehingga tidak bisa dilarang penggunaannya. Pihaknya berharap agar gas 3 Kg yang bersubsidi bagi masyarakat miskin, diberikan sesuai dengan peruntukannya. Bagi masyarakat yang mampu diminta untuk membeli gas yang non subsidi.

“Masyarakat juga harus bijak dalam membeli gas, karena tabung gas 3 Kg khusus bagi masyarakat miskin,” pungkasnya. (Wiwit/red05)

BERITA LAINNYA