Take a fresh look at your lifestyle.

Hadapi Wartawan Nakal Harus Tegas dan Berani Menolak

162
  • Pelatihan Jurnalistik Bersama Suara Merdeka

BREBES – Keberadaan oknum wartawan tidak jelas atau wartawan nakal tak hanya dikeluhkan para kepala sekolah (Kasek) di wilayah Brebes Selatan, tetapi juga dirasakan para Kasek di wilayah Brebes bagian Barat (Ketanggungan, Kersana, Banjarharjo, Losari dan Larangan). Untuk menghadapinya, para kasek sebagai nara sumber harus tegas dan berani menolak terhadap semua bentuk permintaan wartawan nakal.

Hal itu terungkap dalam sesi tanya jawab di Pelatihan Jurnistik bersama Suara Merdeka bagi para kasek SD di Aula SMK Bina Bangsa Kersana, Kabupaten Brebes, Sabtu (12/10). Sebanyak 260 kasek SD di wilayah Kecamatan Ketanggungan, Kersana, Banjarharjo, Losari dan Larangan menjadi peserta dalam pelatihan jurnalistik yang dilaksanakan atas kerjasama antara Harian Suara Merdeka dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Brebes. Selaku pemateri dalam pelatihan di hari kelima tersebut adalah Wartawan Senior Harian Suara Merdeka, H Wahidin Soedja.

“Untuk menghadapi oknum wartawan nakal ini, harus tegas dan berani menolak terhadap barang yang ditawarkan,” ungkap Wahidin Soedja saat menjawab pertanyaan Kesek SD Islam Losari Lor, Budi Asmoro.

Lebih lanjut dia mengatakan, onkum wartawan yang tidak jelas, biasanya menggunakan beberapa cara untuk mendapatkan sesuatu dari nara sumber. Bahkan, mereka juga ada yang menggunakan cara seperti meminta bantuan dengan proposal, berjualan kalender dan taplak meja dengan harganya tidak wajar. “Kalau seperti ini, minta proposalnya dan jawab tegas jika memang tidak bisa memenuhi permintaan dalam proposal. Sebab, jika dituruti maka mereka akan datang terus,” ungkapnya.

Dalam pelatihan itu, selain berbagi ilmu mengatasi wartawan nakal, juga memberikan materi terkait tugas dan fungsi wartawan. Sebab, selain dilindungi Undang-undang tetang Press, wartawan juga mempunyai batasan-batasan dalam melaksanakan tugasnya. “Jadi, kami juga tidak bisa bertugas seenak sendiri. Ada kode etik jurnalistik yang menjadi batasan-batasan. Wartawan juga tidak bisa seolah-olah seperti penyidik, tetapi hanya sebatas konfirmasi suatu berita,” ungkapnya.

Pelaksanaan pelatihan jurnaliatik di SMK Bina Bangsa Kersana juga terlihat lebih semarak. Sebab, di akhir acara pemateri membagikan hadiah kejutan. Suasana pun menjadi ramai ketika pemateri mulai membagikan doorprize tersebut. Dua dari ratusan peserta terpilih untuk mendapatkn hadiah tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Brebes, Tahroni melalui Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Rojat mengatakan, pihaknya memberikan apresiasi yang tinggi atas pelatihan jurnalistik yang diberikan kepada parw kasek. Untuk itu, para peserta diharapkan bisa memanfaatkan momentum pelatihan agar bisa mengetahui dan memahami tugas wartawan yanh benar, termasuk bisa ikut belajar menulis agar karyanya bisa dipublikasikan di media masa. “Tak perlu takut sampaikan apa yang selama ini dirasakan meresahkan. Wartawan yang ada di sini (pelatihan-red) dari Harian Suara Merdeka. Sehingga, bapak ibu bisa mendapatkan cara yang jitu mengatasi masalah wartawan nakal,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam membuka kegiatan.

Koordinator Bisnis Wilayah Suara Merseka Tegal, Wawan Hudiyanto mengatakan, pihaknya tidak menyangkan jika pelatihan jusnalistik yang dilaksanakan mendapat antusias yang tinggi dari para peserta. Terbukti, lima titik tempat dilaksanakannya pelatihan jurnalistik jumlah peserta yang ikuti cukup tinggi. “Kegiatan kali ini merupakan bagian dari road show pelatihan jurnalistik yang dilaksanakan di Brebes. Ada lima titik pelaksanaan dan di sini (Kersana-red) merupakan titik kelima atau yang terakhir,” pungkasnya.

(Setiawan-red2)

BERITA LAINNYA