Take a fresh look at your lifestyle.

Bercengkerama dengan Jabrik, Kera-kera Candi Batur Punya Nama Sendiri-sendiri

123

PEMALANG, smpantura.com – Pelaku perjalanan dari arah Banyumas menuju Pemalang memiliki titik lelah di Desa Bulakan, Kecamatan Belik. Di titik ini tersedia rest area Candi Batur yang dikelola oleh pemerintah desa.

Di rest area tersebut pengunjung bisa melepas penat sambil menikmati makanan ringan di kedai-kedai yang dibangun warga. Sambil menyeruput kopi atau teh atau minuman lain pengunjung bisa menikmati pemandangan hutan alam yang dihuni oleh ribuan kera.

Kera-kera ini jinak dan biasa dipanggil sesuai namanya oleh pedagang makanan di sana. Sakunah salah satu pedagang makanan tersebut sering memanggil kera-kera dengan nama-nama yang mirip manusia agar kera tersebut mendekat menghibur pengunjung kedainya. Di kedainya Sakunah menjual makanan baik untuk dimakan pengunjung maupun untuk kera-kera tersebut.

“Mereka berkoloni, ada pemimpinnya yang paling besar,saya sudah mengenalnya ada yang namanya Jabrik,”kata Sakunah. Memang ketika dia menyebut nama Jabrik dari kejauhan seekor kera besar dan diikuti kera-kera lainnya berlari ke arah Sakunah.

Kera bernama Jabrik ini menurut Sakunah adalah keturunan dari pimpinan kera bernama Jambrong. Kera lainnya ada yang bernama Darkonah yang merupakan keturunan dari kera bernama Gapit. Gapit dan Jambrong lanjut dia sudah meninggal dunia.

Di Candi Batur tidak hanya Sakunah yang hafal nama kera tersebut, pedagang lain juga ikut pula menghafalnya. Dengan demikian ketika ada pengunjung datang dan memesan makanan untuk kera maka pedagang tinggal memanggil nama kera-kera tersebut. Ada kepercayaan bahwa pemngunjung yang memberi makan kera Candi Batur akan mendapatkan balasan berupa rezeki tak terduga di kemudian hari.

Kera-kera yang mendekat untuk mendapatkan makanan dari pengunjung bertingkah lucu. Ada yang memiliki ekor panjang ada pula yang berbadan besar. Tingkah mereka cukup membuat rasa lelah usai menempuh perjalan hilang.

Menurut pedagang jumlah kera Candi Batur mencapai 1.200 ekor. Kepala Desa Bulakan, Sigit Pujiyanto mengatakan kera-kera Candi Batur hidup berkoloni sebanyak delapan koloni.”Mereka menghuni hutan lindung Brama Kendali yang di dalamnya terdapat mata air,”kata Sigit.

Kera dan pohon-pohon di hutan tersebut tetap lestari sampai sekarang lantaran ada penjagaan dari warganya melalui kepercayaan-kepercayaan. Menurut Kades warganya tidak berani mengambil material dari huta lindung sebab apabila nekat membawa material ke rumah maka akan hadir di dalam mimpinya makhluk yang akan memintanya untuk mengembalikan.

Sementara mata air di dalam hutan lindung ada empat antara lain Tuk (mata air) Wadonan yang dijaga oleh makhlauk halus Nyai Rantan Sari dari Teluk Penyu, Tuk Siduda dijaga oleh Dewi Mas Kuncung dari Sokaraja, Tuk Nyai dijaga oleh Nyai Ajeng Melati dan Tuk Srengseng dijaga oleh Nyai Khotijah Srengseng dari Banten.

Ada kepercayaan apabila mandi di tuk-tuk tersebut maka akan mendapatkan berkah. Karena itu banyak pengunjung baik dari Pemalang maupun luar kota yang datang, tidak hanya bercengkerama dengan kera-kera Candi Batur namun juga menyempatkan mandi untuk mendapatkan berkah.

Namun dmeikian ada pantangan bagi pengunjung yang tidak boleh dilakukan yaitu agar menghindari memakai pakaian berwarna hijau gadung. Apabila ada pengunjung yang memakai baju hijau gadung maka pengelola akan memintanya untuk mengganti, pengelola juga menyediakan kain sebagai baju pengganti.

Candi Batur sendiri berada di tanah desa seluas tiga hektar. Sekarang terus dikembangkan dengan mendapatkan bantuan dari lembaga wisata Carventer. Meski bernama Candi Batur namun di area ini tidaklah terdapat bangunan candi, hanya ada petilasan-petilasan saja. Candi Batur ini dalam situs Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabuapten Pemalang dahulunya adalah tempat ndelik (persembunyian) kerabat Mataram Patih Citra Wirya dan Kyai Mpu Brama Kendali yang merupakan nenek moyang
masyarakat Desa Bulakan.

Sementara untuk mendongkrak tingkat kunjungan wisatwan menurut Kades pengelolaan akan ditingkatkan. Kegiatan-kegiatan tradisi yang sebelumnya sudah ada akan dipertahankan yaitu tradisi sedekah tuk dan ruwat bumi yang biasa dilaksnakan pada tanggal 1 Muharam.

Sedekah tuk ini dilakukan dengan memotong kambing dan menanam kepalannya di sekitar tuk sementara dagingnya dimasak untuk dimakan beramai-ramai penduduk desa. Pada saat itu juga digelar festival budaya dan pertunjukan wayang.

Ke depan lanjut Kades akan dibangun joging track dan pemasangan paving di halaman parkir. Harapannya penataan tersebut akan membuat betah pengunjung dalam bercengekrama dengan Jabrik dan kawan-kawan. Kemudin joging track akan mengarahkan pengunjung ke tuk sehingga mengurangi risiko kerusakan lingkungan. Selanjutnya pengunjung yang datang akan diminta mengenakan pakaian adat khas Bulakan.(*)

BERITA LAINNYA