Take a fresh look at your lifestyle.

Bentuk Kampung KB Untuk Menangani Stunting

249

PEMALANG – Dalam rangka menangani stunting, Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang bersama tim pengabdian pada masyarakat Universitas Diponegoro selenggarakan pemberdayaan masyarakat dalam rangka inisiasi Desa Keluarga Berencana di Desa Longkeyang. Desa Longkeyang dipilih menjadi kampung KB sebab sesuai dengan kriteria program yaitu banyak memiliki keluarga miskin dan merupakan desa prioritas stunting.

“Bertempat di balai Desa Longkeyang, kegiatan Inisiasi kampung KB dihadiri oleh 60 peserta yang terdiri dari perangkat desa, pengurus PKK, kader kesehatan dan tokoh masyarakat.bKepala Desa Longkeyang Mahjun, dalam sambutannya menyatakan apresiasi atas penyelenggaraan Inisiasi kampung KB sebagai upaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Longkeyang,” ujar Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Farid Agushybana, saat memberikan sosialisasi di Desa Longkeyang, baru baru ini.

Dia mengatakan, dalam kegiatan tersebut juga dilakukan praktik ular tangga BKB kit stunting yang dipandu oleh Dian dari tim PLKB Kecamatan Bodeh. Hal itu dilakukan bertujuan untuk menambah pemahaman kader kesehatan mengenai kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB). Inisiasi Kampung KB Desa Longkeyang merupakan bagian dari aksi nyata tim PLKB Kecamatan Bodeh bersama perangkat desa dan PKK dalam akselerasi penanganan stunting dan peningkatan kesejahteraan keluarga. Dengan inisiasi kampung KB, diharapkan dapat memberdayakan masyarakat sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Pemalang kasus dalam berita sebelumnya kasus stunting saat ini yang masuk dalam kategori terindikasi. Dinas mencatat yang terindikasi stunting sekitar 4.853 kasus. Mereka tersebar di 14 kecamatan dari 25 puskesmas yang ada. Apabila berdasarkan data, bahwa jumlah stunting di Pemalang terus mengalami penurunan, bahkan pada tahun 2019 lalu hanya sekitar 16 persen dari sekitar 25 ribu angka kelahiran di daerah tersebut.

“Di Indonesia, sekitar 37 persen anak balita mengalami stunting, sehingga perlu adanya penangangan serius dari semua pihak, dalam rangka menyelamatkan generasi bangsa. Kekurangan gizi tidak saja membuat stunting, tetapi juga menghambat kecerdasan, memicu penyakit, dan menurunkan produktivitas anak yang bisa berdampak pada masa depan anak,” tandasnya.

Ia mengatakan, dalam jangka pendek, stunting dapat berdampak pada peningkatan kejadian kematian dan kesakitan anak serta dapat mengganggu perkembangan kognitif, motoric dan verbal pada anak, sehingga  dapat berakibat pada peningkatan biaya kesehatan dalam keluarga. Sedangkan efek jangka panjang stunting antara lain berpengaruh pada kapasitas belajar dan performa anak yang kurang optimal saat masa sekolah, sehingga pada saat dewasa produktivitas dan kapasitas kerja menjadi tidak optimal. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis dan stimulasi psikososial serta paparan infeksi berulang terutama terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan. Saat ini bisa lihat, banyak anak-anak remaja terutama remaja putri mempunyai tinggi badan yang lebih pendek dibanding pada teman-teman seusia mereka. (H77/Red_03)

BERITA LAINNYA