Take a fresh look at your lifestyle.

Bantuan Sesuai UMK, Warga Bakal Nurut Tinggal di Rumah

144

SLAWI – Memutus mata rantai penyebaran Virus Korona (Covid-19), salah satunya warga tetap tinggal di rumah. Namun, kondisi itu bisa dilakukan jika pemerintah memberikan bantuan kepada setiap rumah minimal sesuai dengan Upah Minimun Kabupaten (UMK). Pasalnya, wabah ini telah membuat perekonomian lesu.

“Warga akan patuh terhadap himbauan pemerintah untuk stay at home, jika ada yang bisa dimakan di rumah. Kalau tidak ada, mereka pasti keluar rumah untuk mencarinya,” kata Anggota DPRD Kabupaten Tegal, M Khuzaeni, Minggu (5/4).

Dikatakan, langkah awal dalam menangani wabah Virus Korona, yakni dengan mengimplementasikan PP Nomer 11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Covid-19. Pemkab Tegal diminta untuk menetapkan status Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Covid-19, tanpa menunggu korban jiwa atau menunggu warga Kabupaten Tegal yang positif terpapar Korona. Hal itu dikarenakan Covid-19 adalah wabah global yang terjadi di semua negara, termaauk semua wilayah Indonesia.

“Hampir 30 persen penduduk Kabupaten Tegal bermata pencaharian sebagai perantau di daerah lain. Kita harus berfikir realistis bahwa virus ini salah satunya bisa dihentikan dengan cara memotong penyebaran penularannya,” terang politisi Partai Golkar itu.

Dijelaskan, memotong penyebaran virus tersebut bisa dilakukan dengan lock down, isolasi dan karantina yang intinya merumahkan masyarakat. Untuk merumahkan warga, tidak bisa hanya himbauan semata, karena mereka juga butuh makan. Terutama, masyarakat yang tidak memiliki penghasilan tetap. Selain itu, banyak warga lainnya yang akibat wabah Virus Korona berubah statusnya menjadi tidak mampu. Hal itu harus didata sebagai penerima bantuan imbas Virus Korona.

“Saya rasa anggaran yang diajukan Pemkab Tegal sebesar Rp 100 miliar, tidak cukup. Warga yang terdampak juga harus mendapatkan bantuan. Sayayakin warga nurut untuk di rumah jika diberikan bantuan,” ujar Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Tegal yang akrab disapa Jeni itu.
Bantuan yang diberikan, lanjut dia, sesuai dengan UMK. Tidak hanya bantuan makan, tapi kebutuhan lainnya juga dipenuhi. Anggaran lainnya, diantaranya tempat karantina bagi perantau yang baru mudik minimal 14 hari, anggaran isolasi wilayah jika memang kondisinya memburuk. Bahkan, jika diperlukan dianggarkan untuk karantina desa yang masuk zona merah.

“Jika desa bisa menganggarkan akan lebih baik. Bisa menggunakan fasilitas sekolah untuk karantina desa,” ujarnya.

Ditambahkan, wabah Virus Korona bisa diputus jika semua wilayah lainnya bisa melakukan isolasi wilayah secara serentak. Kalau hanya satu kabupaten, maka virus itu akan terus menyebar. Terlebih, wilayah Kabupaten Tegal yang banyak warganya sebagai perantauan.

M”Perantaun yang sudah pulang kampung mencapai 25 ribu orang. Ini sangat berpotensi menyebarkan Virus Korona,” pungkasnya. (Wiwit-red03)

BERITA LAINNYA