Take a fresh look at your lifestyle.

Ajukan PSBB, Daerah Harus Siap Anggaran Jaring Pengaman Sosial

147

SLAWI – Pemerintah Pusat telah menerbitakan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Dalam aturan itu, kepala daerah harus cermat sebelum mengajukan permohonan PSBB kepada Menteri Kesehatan, terutama ketersediaan kebutuhan hidup dasar rakyat setempat.

“Jangan sampai ketika Menkes menetapan PSBB di suatu wilayah, daerah belum siap mengenai anggaran dan operasionalisasi jaring pengaman sosial,” kata Anggota Komisi IX Bidang Kesehatan dan Ketenagakerjaan DPR RI, Dewi Aryani, Minggu (5/5).

Dikatakan, PSBB yang dimaksud dalam Peraturan Menkes tertanggal 3 April 2020 adalah pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi Covid-19 sebagai upaya untuk mencegah kemungkinan penyebaran Covid-19. Dijelaskan, untuk dapat ditetapkan PSBB, suatu wilayah provinsi/ kabupaten/ kota harus memenuhi kriteria, diantaranya jumlah kasus dan/atau jumlah kematian akibat penyakit meningkat dan menyebar secara signifikan dan cepat ke beberapa wilayah. Selain itu, terdapat kaitan epidemiologis dengan kejadian serupa di wilayah atau negara lain.

“Dalam Pasal 4 PMK No. 9/2020 disebutkan bahwa gubernur/ bupati/ wali kota dalam mengajukan permohonan PSBB kepada Menkes harus disertai dengan data, antara lain peningkatan jumlah kasus menurut waktu disertai kurva epidemiologi,” beber Anggota DPR RI yang tinggal di Desa Sidaharja, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal itu.

Selain itu, kata dia, data penyebaran kasus menurut waktu disertai peta penyebaran menurut waktu, dan kejadian transmisi lokal disertai dengan hasil penyelidikan epidemiologi yang menyebutkan telah terjadi penularan generasi kedua dan ketiga. Dalam Pasal 9 disebutkan bahwa Penetapan PSBB atas dasar peningkatan jumlah kasus secara bermakna dalam kurun waktu tertentu, terjadi penyebaran kasus secara cepat di wilayah lain dalam kurun waktu tertentu, dan ada bukti terjadi transmisi lokal.

“Dalam Pasal 13 Ayat (1) menyebutkan bahwa pelaksanaan PSBB meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum, pembatasan kegiatan sosial dan budaya, pembatasan moda transportasi, dan pembatasan kegiatan lainnya khusus terkait dengan aspek pertahanan dan keamanan,” jelas Dewi Aryani yang akrab disapa Dear itu.

Namun, lanjut Dewi Aryani, jika pemerintah daerah sudah siap akan ketersediaan kehidupan dasar masyarakat setempat, sarana dan prasarana kesehatan, anggaran dan operasionalisasi jaring pengaman sosial, dan aspek keamanan, segera mengajukan kepada Menkes.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI ini mengingatkan kepala daerah yang melaksanakan PSBB harus berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk aparat penegak hukum, pihak keamanan, pengelola/ penanggung jawab fasilitas kesehatan, dan instansi logistik setempat.

“Koordinasi itu dalam rangka efektivitas dan kelancaran pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar,” kata Dewi.

Wakil rakyat asal Daerah Pemilihan Jawa Tengah IX (Kabupaten/Kota Tegal dan Kabupaten Brebes) ini mengingatkan pemerintah daerah harus tetap waspada dan mengantisipasi arus pemudik yang masuk ke wilayahnya masing-masing.

“Posko di tiap desa dimaksimalkan dan dimonitor kerjanya,” kata Doktor Administrasi Kebijakan Publik dan Bisnis Universitas Indonesia itu. (Wiwit-red03)

BERITA LAINNYA