Take a fresh look at your lifestyle.

Agus Dwi: PMR Harus Pahami Lingkungan Sekitar

118

Agus Dwi: PMR Harus Pahami Lingkungan Sekitar

TEGAL-Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Tegal drg. Agus Dwi Sulistyantono mengajak Palang Merah Remaja (PMR) untuk peduli dan tanggap terhadap lingkungan sekitar.

Tak hanya itu, PMR juga harus mengetahui berita terkini. Dengan memahami lingkungan dan informasi jadi mengetahui apa saja yang bisa dikontribusikan dalam hal sosial dan kemanusiaan.

Hal itu disampaikan Agus saat membuka Konferensi PMR Tingkat Kota Tegal Tahun 2019 di Markas PMI Kota Tegal Jalan KS. Tubun, Senin (29/7).

Agus menjelaskan, PMR harus mengetahui tentang kondisi lingkungan sekitar. Mulai dari mengetahui sekolah, hingga kota dimana tempat tinggalnya berada.
Tak hanya itu, sangat penting juga untuk mengetahui informasi. Termasuk melalui media masa.

“Saya sejak SD suka baca koran. Sejak pagi menunggu koran datang. Awalnya menunggu kolom olahraga. Zaman berkembang dan saya banyak tahu berita baik itu politik, olahraga, pemerintahan, dalam negeri, dan luar negeri. Manfaatnya adalah saya bisa mengetahui banyak hal,” kata Agus.

Menurutnya, media adalah sumber informasi bagi orang lain dan diri sendiri. “Adik adik seorang PMR bukan hanya paham kepalangmerahan. Namun juga harus paham situasi lingkungan. Tidak baik hanya memahami diri sendiri dan tidak paham lingkungan,” kata dia.

Selain tanggap kebencanaan, juga diharapkan bisa memberikan bantuan hidup dasar seseorang, hingga pertolongan lebih layak diperoleh.

“Lingkungan harus dipahami, suka tidak suka. Saya dulu lahir dan besar di Jogja. Termasuk saya kuliah di UGM aktif mulai dari pecinta alam, dan lainnya. Banyak yang lain ketika itu hanya belajar, saya belajar ada waktunya, dan ikut kegiatan lain,” terangnya.

Menurutnya, pendidikan di luar kelas juga sangat penting. Selain belajar, bisa aktif melalui kegiatan lain termasuk kegiatan sosial dan kemanusiaan.

“Karena itu yang akan mendidik kehidupan kita dan bisa menjiwai setelah lulus. Kalau hanya belajar saja misalnya, kalau semua berfikir seperti itu saja misalnya, siapa yang nanti mikir tentang kepalangmerahan,” kata dia.

“Dulu waktu sekolah, pernah ada tawuran, saya menolong yang terluka. PMR atau PMI itu tidak mengenal batas, siapapun ya kita bantu. Tidak melihat pihak sekolah mana,” ajak dia.

Menurutnya, seseorang boleh bercita-cita menjadi apa saja. Menjadi pejabat, pengusaha, atau yang lainnya. “Silahkan bercita-cita boleh jadi orang kaya, pengusaha, pejabat. Namun harus selalu memupuk terus untuk aktif dalam bidang sosial dan kemanusiaan.”

“Pupuk terus dan yakinlah bahwa aktif dalam kegiatan sosial tidak akan menjadi miskin dan kere, namun hati kita akan selalu kaya dengan membantu orang lain,” ujarnya.

Dia berharap, kegiatan PMR di sekolah bisa disinkronkan. Jangan sampai program di sekolah berlawanan dengan apa yang sudah dicanangkan PMI tingkat kota.

“Sebagai PMR dibina oleh sekolah dan PMI. Agar menjadi PMR yang tangguh, tidak hanya memahami kehidupan diri sendiri juga orang lain. Peduli orang lain dan kerjasama. Selalu setia dan ceria,” pungkasnya.

Acara diikuti oleh puluhan PMR dari sekolah negeri dan swasta se-Kota Tegal. Dihadiri pula Bidang Humas dan Pencitraan Agus Santoso, sekretaris Stella Emilina, dan Kepala Markas PMI Djoko Triatmojo. (Setya/Red38)

BERITA LAINNYA