Setelah bertahun-tahun menikmati lonjakan kesuksesan yang luar biasa, Nvidia dan CEO-nya, Jensen Huang, kini berada dalam posisi yang tidak biasa: bertahan. Raksasa cip ini memasuki bulan November dengan harga saham yang menyentuh rekor tertinggi, didorong oleh belanja kecerdasan buatan (AI) yang masif dari pelanggan teknologi besar mereka seperti Meta, Microsoft, dan Google. Namun, dalam satu bulan terakhir, narasi pasar berubah drastis, memaksa perusahaan untuk menangkis kekhawatiran investor dan ancaman kompetisi yang semakin nyata.

Hengkangnya Investor Besar dan Isu Gelembung AI

Awalnya, Jensen Huang tampil penuh percaya diri pasca konferensi GTC di Washington, menepis segala kekhawatiran mengenai “gelembung AI” atau AI bubble. Namun, kenyataan di pasar berkata lain. Sepanjang bulan November, Nvidia kehilangan sekitar 11% dari nilainya. Perusahaan yang baru saja menjadi entitas pertama di dunia dengan kapitalisasi pasar senilai $4 triliun ini mendadak ditinggalkan oleh nama-nama besar.

SoftBank dan Peter Thiel dilaporkan telah mencairkan keuntungan mereka dari saham Nvidia. SoftBank bahkan mengumumkan telah keluar sepenuhnya dari posisi investasinya di Nvidia, menjual saham senilai $5,8 miliar untuk beralih ke OpenAI. Meski CFO SoftBank menegaskan bahwa langkah ini “tidak ada hubungannya dengan Nvidia itu sendiri,” pasar tetap bereaksi cemas. Langkah ini seolah gagal meredam spekulasi bahwa valuasi teknologi saat ini sudah tidak berkelanjutan.

Dilema Kinerja: Hasil Memuaskan yang Tak Dihargai

Situasi semakin pelik ketika Nvidia merilis laporan pendapatan kuartal ketiga pada 19 November. Secara fundamental, kinerja perusahaan terlihat sangat kokoh. Pendapatan kuartal ketiga fiskal 2026 mencapai $57 miliar, naik 62% dari tahun ke tahun. Segmen pusat data (data center) menyumbang $51,2 miliar, melonjak 66%, didorong oleh permintaan cip Blackwell yang disebut manajemen “luar biasa tinggi”.

Kendati melampaui ekspektasi analis yang sudah sangat tinggi, reaksi pasar justru berbalik arah sehari setelah pengumuman. Dalam sebuah pertemuan tertutup dengan karyawan, Jensen Huang dilaporkan mengungkapkan rasa frustrasinya. Ia menyebut bahwa pasar tidak menghargai kuartal yang luar biasa tersebut dan menggambarkan Nvidia berada dalam situasi “serba salah”.

“Jika kami memberikan hasil kuartal yang buruk, itu dianggap bukti adanya gelembung AI. Jika kami memberikan hasil yang sangat bagus, kami dianggap sedang memicu gelembung AI,” ujar Huang. Di hadapan publik, ia tetap optimistis dengan mengatakan bahwa pandangan Nvidia “sangat berbeda” dari isu gelembung yang beredar, namun hal itu belum cukup menenangkan kegelisahan investor mengenai valuasi teknologi yang terus membengkak.

Ancaman Nyata dari Aliansi Google dan Meta

Tekanan terhadap Nvidia tidak berhenti pada sentimen pasar. Laporan terbaru dari The Information menyebutkan bahwa Google tengah dalam pembicaraan serius dengan Meta untuk menyediakan cip canggih buatan mereka sendiri bagi jejaring sosial tersebut. Kabar ini langsung memukul saham Nvidia, mengingat selama ini cip Nvidia merupakan “standar emas” yang digunakan oleh raksasa teknologi untuk melatih model bahasa besar (LLM).

Jika kesepakatan ini terwujud, Meta berpotensi mulai menggunakan Tensor Processing Units (TPU) milik Alphabet untuk pusat data mereka mulai tahun 2027. Hal ini menjadi sinyal bahaya bagi pemegang saham Nvidia, karena hampir seluruh pendapatan perusahaan saat ini bergantung pada penjualan cip pusat data. Munculnya kompetitor seperti Google yang mulai menggerogoti pangsa pasar Nvidia memicu kekhawatiran bahwa dominasi perusahaan cip tersebut mungkin tidak akan bertahan selamanya.

Perspektif Jangka Panjang di Tengah Volatilitas

Meski tahun 2027 masih cukup jauh, fakta bahwa Meta mempertimbangkan alternatif selain Nvidia menunjukkan potensi perubahan struktural di industri ini. Pada laporan pendapatan terakhirnya, Nvidia tidak memberikan indikasi adanya kompetisi berarti dari perusahaan berbasis AS, sehingga kabar mengenai manuver Google dan Meta ini cukup mengejutkan investor.

Bagi sebagian analis, penurunan harga saham ini bukanlah sekadar momen untuk “membeli saat harga turun” (buy-the-dip), melainkan sebuah peringatan. Margin keuntungan Nvidia bisa saja tertekan jika para pesaing berhasil menembus benteng pertahanan mereka. Meskipun manajemen Nvidia memproyeksikan pendapatan kuartal keempat fiskal 2026 akan mencapai sekitar $65 miliar, bayang-bayang kompetisi dan skeptisisme pasar membuat masa depan sang raja AI ini terlihat lebih menantang daripada sebelumnya.