Agus Tarjono, Sang Lebe Penyair

0 53

Dinilai Gila, Ketika Mayat Ditalkin Puisi

DIKALANGAN penyair, sastrawan maupun budayawan kawasan pesisir Pantura, atau di Pulau Jawa, maupun tanah air, sosok penyair Agus Tarjono SH yang kerap pula disapa ”Lebe Penyair”, memang bukan sosok yang asing.

Artinya bagi kalangan seniman, mereka sudah cukup mafum dengan sosok yang kerap meledak-ledak, bersuara lantang dan keras, serta penuh bersemangat, saat membacakan puisi karya sendiri, maupun sastrawan legendaris di tanah air.

Meski sudah tak dianggap hal baru, bagi kalangan seniman, selalu saja Sang Lebe Penyair, menyajikan berbagai kejutan.

Foto bersama setelah kegiatan

Pria yang lahir tepat 23 tahun setelah Indonesia memproklamirkan Kemerdekaannya, belum lama ini membuat kejutan dengan segudang kisah perjalanan kepenyairannya.

”Saya ini dinilai, dianggap Lebe Gila. Hla wong mayit, mayat atau jenazah, sudah dikubur kok ditetep ditalkin (dinggatkan atau peringatan-red) dengan puisi. Ora kaya biasane (Tak seperti biasanya-red),” ucap dia usai didaulat membacakan puisi-puisi pilihan karya Sastrawan Angkatan 66, Piek Ardijanto Soeprijadi, di halaman rumah sastrawan itu, Sabtu malam 15 Agustus.

Di kediaman rumah sastrawan itu, di Jl Cereme No 4 Kota Tegal, dia membacakan delapan puisi pilihan karya ”Pak Piek”, sapaan akrab almarhum Piek Ardijanto Soeprijadi.

Puisi itu berjudul ”Kepada Istriku”, ”Ibu”, ”Gempa”, ”Ciliwung”, ”Asiah”, ”Memusar Pada Diri”,”Melintasi Hutan Jati”, dan ”Malioboro”.

Penyair muda dan pemerhati sastra tanah air, Suriali Andi Kustomo, yang menjadi moderator kegiatan bertajuk ”Tadarus Puisi Piek Ardijanto Soeprijadi dan Diskusi Sastra”, pun sempat terhenyak.

”Kok begitu? Siapa yang bilang anda ini Lebe Gila?”, sergah Andi yang memandu dialog sastra itu. Penyair dan budayawan Atmo Tan Sidik pun langsung memegang kening kepalanya. ”Ana apamaning kiye? (Ada apa lagi ini?-red)”.

Gestur Serius

Letupan pengakuan Lebe Penyair, pun memancing gestur serius dari penyair lain yang hadir untuk mengikuti kelanjutan kisah perjalanan kepenyairan sang lebe tersebut.

Mulai Dr Maufur MPd, Muarif, Yono Daryono, Apas Kapasi, Lanang Setiyawan, Agus Sibrong, pemerhati sastra ”Dudung” Abdulah Sungkar, Endang Wintarti, Retno Kusrini, hingga Itiningsih alias ”Bu Piek”, yang menjadi tuan rumah kegiatan seni tersebut.

Keluarga almarhum atau almarhumah, kata Agus Tarjono, menilai ”Talkin Puisi” yang disajikan usai prosesi mayat sudah berada di liang kubur, adalah hal gila yang dilakukan dirinya.

Sebab, tak sebagaimana biasanya seorang Lebe, yang cukup menyampaikan talkin (Peringatan-red) dengan bahasa Arab, dan menguraikan artinya dalam bahasa Indonesia, sesuai pakem yang sudah biasa masyarakat ketahui.

”Tapi saya sebenarnya tetap tak keluar pakem atau aturan yang ada. Ini hanya pengayaan saja. Departemen Agama Brebes, juga tidak mempersoalkan.

Karena unsur pengayaan ini sebagai hal yang lumrah. Apalagi sudah tahu saya adalah seorang penyair,” ucap dia.

Menurut dia, sejak dirinya dilantik sebagai Lebe pada 16 September 2001, sudah 200 jenazah atau mayat yang ditalkin puisi. Sebenarnya, kata dia, lebih tepatnya adalah menyajikan puisi indah yang singkat dan kerap disebut ”Epigram”.

Sesungguhnya Hidup…Disambut Disambut Dengan Adzan
Meninggal… Diantar Dengan Sholat
O…hidup…, Alangkah Singkat,
Antara adzan dan sholat

Itulah nukilan puisi singkat atau Epigram yang kerap dinilai sebagai ”Talkin Puisi” a la Sang Lebe Penyair. Seraya menambahkan undangan bagi pelayat, untuk menghadiri tahlil di malam harinya, usai Ba’da Isya.

Mau Menerima

Menurut dia, jika almarhum atau almarhumah berasal dari kalangan Nahdliyin, memang masih mau menerima talkin.

Karena meski talkin layak disampaikan ketika orang masih hidup, tapi saat usai menguburkan jenazah hal itu tetap dapat disampaikan.

Tujuannya, untuk memberi peringatan kepada orang yang masih hidup. Agar lebih mempersiapkan diri sebelum meninggal dunia.

Nah, jika yang meninggal dunia bukan dari kalangan keluarga Nahdliyin, kata dia, rata-rata tidak berkenan untuk dilakukan talkin seperti yang dianjurkan Departemen Agama.

Tapi soal ”Talkin Puisi”? Dia ternyata tak kurang akal untuk menyajikan kata-kata indah dalam rangkuman talkin puisinya.

Hidup Hanya Menunda Kekalahan…
Hidup Hanya Antre Penantian…

Kemudian dia menambahkan, ‘Barangkali Almarhum atau Almarhumah ada hutang piutang atau Daen, agar menghubungi ahli warisnya.

Sebab hutang berimplikasi dunia akhirat. Orang tertunda masuk surga karena masalah hutang. Yakni belum ada ahli warisnya yang menanggung’.
Agus Tarjono yang lahir di Desa Ciampel, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, 17 Agustus 1968, mengungkapkan, sekarang sudah cukup lega.

Karena ”Talkin Puisi”-nya, sudah dapat diterima masyarakat. Apalagi dia sudah cukup lama dikenal sebagai penyair, ya dengan sebutan ”Lebe Penyair”.

Dia kini sudah menulis puisi pilihan sebanyak 1.507 puisi dengan berbagai genre sesuai perkembangan zaman.

”Target Saya menulis atau menciptakan 3.000 puisi pilihan. Mudah-mudahan dapat tercapai sebelum saya dipanggil Sang Khaliq,” ucap dia.

Menyoal perjalanan kepenyairannya, sebenarnya pengakuan berkait ”Talkin Puisi”, bukanlah kejutan yang meletup di tahun ini. Jauh sebelumnya, dia berjalan kaki sepanjang 25 Km, menggelar ”Ngamen Puisi”, pada 2006.

Puisi Pilihan

Suriali Andi Kustomo yang terus mengorek keterangan lebih dalam dari Sang Lebe Penyair, pun, malam itu, dikejutkan dengan pengakuan jika puisi karya Agus Tarjono masuk nomor urut 60 dari 100 puisi pilihan di tingkat Asia Tenggara.

”Ini apa lagi? Sing bener kiye, serius. Ini kok baru tahu malam ini. Orang Tegal dan sekitar nda ada yang tahu. Hebat sampeyan ini.

Tiba-tiba karya anda masuk ke dalam jajaran puisi pilihan tingkat ASEAN,” ucap Andi yang malam itu terus dibuat penasaran.

Dengan gaya tenang, Agus Tarjono menjelaskan kegiatan yang pernah diikuti, dan bertajuk Within of The 3th ASEAN Poetry Writing Competition With Theme ‘Cinta dan Kasih Sayang’, yang digelar STAIN Purwokerto, pada 12 Juli 2020.

Dia menerima piagam atau sertifikat itu yang dinilai telah berkontribusi dalam 100 puisi pilihan para dewan juri, yang berasal dari empat dengara kawasan Asia Tenggara.

Terdiri atas, Prof Dr Irvan Abubakar (Malaysia), Dr Abdul Wahid BS (Indonesia), Rohanah (Singapura), dan Dholoh MPd dari Thailand.

”Puisi saya berjudul Mujizat Cinta masuk urutan 60 puisi terbaik dan pilihan para juri untuk penyair tingkat Asia Tenggara,” ucap Agus Tarjono yang disambut aplaus hangat sejumlah penyair, sastrawan dan budayawan yang hadir diperhelatan, di halaman rumah Bu Piek, malam itu.

Ketika memimpin doa untuk mengakhiri kegiatan bertajuk ”Tadarus Puisi Piek Ardijanto Soeprijadi dan Diskusi Sastra”, dia memohon ke Bu Piek untuk dapat diterima sebagai keluarga dari wilayah Kampung Marpangat, alias di tempat tinggal sastrawan Angkatan 66 itu.

Sebab untuk membacakan delapan puisi pilihan Piek Ardijanto Soeprijadi, dia harus menunggu selama 18 tahun.

Dia sudah tujuh kali ziarah ke makam sastrawan itu, di TPU Panggung, Kota Tegal, dan sangat bersyukur malam itu diizinkan untuk tampil membacakan puisi pilihan karya Piek Ardijanto Soeprijadi.(Riyono-red07)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.