Siswa SSB Bina Muda Tak Sabar Ingin Latihan

- Sebulan Lebih Terpaksa Diliburkan

KAJEN – Suasana di lapangan Karangsari, Kecamatan Karangayar, Kabupaten Pekalongan, akhir-akhir ini ini cukup lengang, khususnya pada saat sore hari. Kerumuman anak-anak usia 8 -13 tahun yang sedang bermain bola maupun mengikuti instruksi pelatihnya sudah tidak terlihat lagi. Palig hanya beberapa warga sekitar yang memanfaatkan lapangan tersebut untuk bersantai dan bermain bersama rekan-rekannya.
Ya, lapangan kebanggaan masyarakat Kecamatan Karanganyar ini merupakan home base dari siswa Sekolah Sepak Bola (SSB) Bina Muda. Dalam sepekan, lebih kurang 85 siswa yang berusia 8 – 13 tahun menjalani latihan rutin tiga kali yakni Selasa dan Jumat dimulai pukul jam 14.00 serta Minggu pagi. Namun ketika pandemik covid 19 melanda Indonesia dan pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan agar masyarakat Work From Home (WFH), aktifitas seperti itu tidak terlihat lagi lebih dari sebulan lamanya.
Para pengurus SSB Bina Muda Karanganyar tidak mau berspekulasi untuk membuka kelas latihan seperti hari biasa.Mereka kemudian memutuskan untuk meliburkan sementara anak didiknya latihan bersama sampai batas waktu tidak tertentu atau situasi kembali aman. Padahal menurut salah satu pengurus, Muhammad Ashon, sekolah sepak bola itu baru berdiri sekitar dua bulan lalu.
”Kami cukup kasihan dengan anak-anak karena baru dua bulan menjalani latihan, sudah libur latihan selama sebulan,” tandasnya.
Ketika hampir sepekan anak didiknya tidak latihan, beberapa di antara sengaja datang ke rumahnya banyak yang tidak sabar ingin kembali mengikuti latihan sepak bola. Mendengar keluhan tersebut, dia bingung menjelaskannya karena wabah dan pademi virus corona tidak dapat diprediski kapan berakhirnya. Akhirnya Ashon memberikan saran supaya mereka harus berada di rumah dan mengerjakan tugas sekolah yang diberikan secara online oleh gurunya.
Menurutnya, kondisi seperti sekarang memang membuat anak didiknya cukup bosan karena hanya tinggal di rumah. Apalagi mereka belum lama bergabung dan ikut latihan sepak bola sehingga semangat untuk berlatih masih sangat tinggi. Namun mau bagaimana lagi, tegas dia, pemerintah pusat sudah mengeluarkan kebijakan supaya tidak menyelengrakan kegiatan yang sifatnya berkerumun atau mendatang orang dalam jumlah besar.
Sedangkan siswa SSB Bina Muda jumlahnya sekitar 85 anak dan pada saat latihan memang terlihat kerumunan banyak orang. Dia khawatir, apabila memaksakan untuk mengggelar latihan kembali, akan mendapat teguran dari pihak terkait, baik pemerintah maupun induk sepak bola di Kabupaten Pekalongan. Di samping itu, pengurus juga tidak mau mengambil resiko dan harus berttanggung jawab kepada kepada orang tua siswa apabila tetap menggelar latihan bersama.
”Kita ikuti saja aturan dari pemerintah sampai kondisinya benar-benar aman,” tegas dia.
Selanjutnya Ashon menjelaskan, meski usia SSB Bina Muda berada di pedesaan namun berani membuka enam kelas sesuai dengan usianya, mu,lai 8 hingga 13 tahun. Guna mendukung kegiatan tersebut, pengurus merekrut sebanyak delapan pelatih yang sudah berlisensi dan berpengalaman. Bahkan diantara pelatih ini ada yang tinggal di luar Kabupaten Pekalongan dan sudah pernah menangani tim sepak bola profesional yakni coach Alfian Tanjung dan M Ababil yang tahun lalu bergabung di Persip Pekalongan.
Dengan mendatangkan para pelatih yang sudah mumuni, harapannya SSB Bina Muda memiliki squad tim maupun pemain sepak bola yang handal. Di samping itu bisa menjadi ”amunisi” bagi tim sepak bola kebanggaan Kota Santri, Persekap Pekalongan apabila usia mereka sudah layak menjadi pemain profesional. (Achid Nugroho/R8)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.