Minat Turun, Usaha Pertanian Terus Tergeser

Bakhrun

SLAWI – Usaha bidang pertanian di Kabupaten Tegal dinilai kurang diminati masyarakat. Kondisi itu dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Tegal di bidang pertanian yang mengalami penurunan. Sektor pertanian diprediksi akan terus menurun seiring dengan perkembangan jumlah penduduk.

” PDRB bidang Pertanian, Kehutan dan Perikanan sebesar 12,14 persen di tahun 2019. Sektor ini menduduki peringkat ketiga berdasarkan jenis lapangan usaha,” kata Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Tegal, Bakhrun usai mengikuti Rapat Pembahasan LKPJ Bupati Tegal tahum 2019 bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal di Ruang Komisi III, Kamis (9/4).

Dikatakan, sektor penyumbang lapangan usaha dalam PDRB terbesar di sektor industri pengolahan sebesar 34,60 persen, disusul sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 15,47 persen dan baru sektor pertanian, kehutan dan perikanan sebesar 12,14 persen. Walaupun menduduki peringkat ketiga, namun produksi pangan padi surplus sebesar 68.143 ton dari total produksi mencapai 360.431 ton. Surplus itu dihitung dari kebutuhan jumlah penduduk sebanyak 1.566.587 jiwa.

“Melihat data tersebut trend data sektor pertanian cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Jika dibanding sebelumnya pada tahun 2013 diangka 17 persen,” terang politisi PKS itu.

Bakhrun menilai pergeseran prosentase ini dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya menurunnya minat usaha pertanian, semakin berkurangnya lahan pertanian, dan kecukupan air irigasi yang tak terjamin. Dijelaskan, minat usaha tani terkikis dengan perkembangan teknologi, dimana generasi muda lebih memilih bekerja di dunia industri dan informatika yang cepat menghasilkan uang. Sementara itu, usaha pertanian didominasi generasi tua yang mulai beralih ke pertanian modern dengan menggunakan mesin-mesin industri.

“Kami khawatir jika Kabupaten Tegal yang notabene masyarakat agraris, lahan pertanian makin berkurang. Sedangkan jumlah penduduk makin meningkat otomatis kebutuhan pangan juga makin tinggi, maka akan mengalami kekurangan pangan secara mandiri,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, kondisi itu bisa semakin parah, jika tidak disertai kebijakan dan intervensi program yang kuat dalam mendukung ketahanan pangan. Di samping itu, Program Pembangunan Irigasi Tanah Dangkal (ITD) yang belum maksimal, maka perlu kreativitas dan inovasi untuk terpenuhinya irigasi di lahan dataran rendah yang mendominasi lahan pertanian di Kabupaten Tegal.

“Capaian Laporan Realisasi Anggaran 2019 Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan secara umum baik, namun ada beberapa kategori rendah,” beber Wakil Ketua Fraksi Demokrat Sejahtera (Desa) itu.

Ditambahkan, beberapa kategori rendah, diantaranya Program Identifikasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) yang hanya tercapai 32,32 persen. Padahal program ini sangat mendukung terkait penyusunan Perda Pangan Berkelanjutan, namun terkendala Perda Perubahan RTRW Kab Tegal yang belum selesai.

“Pemetaan lahan diperlukan dengan target lahan yang dipertahankan seluas 36.008 hektare. Target ini harus tercapai,” pungkasnya. (Wiwit-red03)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.