Upacara Tawur Kesanga dan Melasti Dilaksanakan Sederhana

Hanya Diikuti Tujuh Orang

TAWUR KESANGA: Umat Hindu di Kabupaten Tegal melaksanakan Upacara Tawur Kesanga secara sederhana di Pura Mitra Kencana Dewa , Dukuh Jomblang, Desa Dukuhwringin, Slawi, Selasa (24/3) siang. Dalam rangka mencegah penyerabaran virus Korona, upacara hanya diikuti tujuh orang, yang terdiri atas pemangku dan beberapa panitia dan tanpa melibatkan umat.

SLAWI-Di tengah wabah virus corona, umat Hindu di Kabupaten Tegal  tetap menggelar  upacara Tawur  Kesanga di Pura Mitra Kencana Dewa yang berada di Jalan Sindoro RT 01 RW 01 Dukuh Jomblang , Desa Dukuhwringin, Kecamatan Slawi, Selasa (24/3) siang pukul 11.30 hingga 12.00

Tawur Kesanga dalam rangka Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1942  dilaksanakan secara sederhana di halaman depan (Nista Mandala) Pura Mitra Kencana Dewa dengan dipimpin Ki Mangku Sutarno. Upacara hanya diikuti tujuh orang dan  tidak melibatkan umat.

Sebelum melaksanakan ritual, peserta Tawur Kesanga diwajibkan mencuci tangan menggunakan hand sanitizer dan menggunakan masker.

Menurut Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Tegal, Ida Bagus Nyoman Laksana mengatakan, pembatasan peserta dikarenakan merebaknya wabah virus Korona. Selain itu, mematuhi maklumat dari pemerintah untuk mengantisipasi penyebaran virus Korona. Diantaranya menghindari kerumunan massa.

“Kegiatan tidak melibatkan umat, hanya melibatkan pemangku (pemimpin upacara) dan beberapa panitia. Untuk umat sembahyang di rumah masing-masing. Ini juga sesuai surat edaran dari PHDI Pusat berkaitan dengan kebijakan pemerintah mencegah penyebaran virus Korona,”tutur Bagus.

Bagus menyebutkan, sebelum melaksanakan Tawur Kesanga,  di tempat yang sama telah dilaksanakan upacara Melasti secara sederhana.

Tawur Kesanga atau ruwat bumi yang dilaksanakan satu hari menjelang Hari Suci Nyepi ini, kata Bagus, bertujuan untuk menetralisir dan menjaga keseimbangan alam.

Dengan demikian, pada saat umat Hindu melaksanakan Tapa Brata Penyepian pada Rabu (25/3) tidak ada roh jahat yang mengganggu. Tapa Brata dilaksanakan selama sehari semalam, mulai Rabu (25/3) pukul 06.00 sampai dengan Kamis (26/3) pukul 06.00.

Selama 24 jam, umat Hindu melaksanakan catur brata penyepian, meliputi amati geni atau tidak menyalakan api, yang mengandung makna mengendalikan amarah/emosi. Kemudian amati lelungan atau tidak bepergian, yang mengandung makna memusatkan pikiran menuju sang pencipta.

Selain itu, amati lelanguan atau tidak berfoya-foya/tidak menghibur diri , yang bermakna tidak mengumbar hawa napsu, serta amati karya atau menghentikan segala aktivitas, agar bisa memusatkan pikiran kepada Sang Pencipta. (Sari/Red-06)

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.