Masjid Agung Butuh Termometer dan Hand Sanitizer

DIRENOVASI : Masjid Agung Slawi, Kabupaten Tegal direnovasi bagian atas agar terlihat lebih megah, Senin (23/3). Pengurus masjid membutuhkan termometer dan hand sanitizer untuk mengurangi risiko penyebaran Virus Korona kepada para jamaah. (SMPantura/Wiwit)

SLAWI – Masjid Agung Slawi merupakan salah satu tempat yang rawan penyebaran Virus Korona (Covid-19), karena masjid kebanggan masyarakat Kabupaten Tegal itu berada di jalur utama Tegal-Purwokerto.  Kendati telah dipasang himbauan untuk cuci tangan sebelum masuk masjid, namun tidak ada fasilitas pengukur suhu badan (termometer) dan hand sanitizer.

Ketua Yayasan Masjid Agung Slawi, Hasan Munawar didampingi Seksi Usaha Panitia Renovasi Masjid Agung Slawi, Kushartono mengatakan, Masjid Agung yang berada di jalur utama Tegal-Purwokerto menjadi tempat transit para musafir dari berbagai luar daerah. Kondisi itu tidak bisa dihindari atau menutup masjid, karena akan membatasi masyarakat untuk beribadah. Bahkan, Masjid Agung tetap melaksanakan Shalat Jumat dan hanya membatasi kegiatan pengajian rutin.

“Untuk penyemprotan disinfektan di Masjid Agung sudah dilaksanakan pada Jumat (20/3). Itu pun permintaan dari pengurus masjid,” katanya.

Menurut dia, Pemkab Tegal seharusnya memprioritaskan Masjid Agung untuk penanganan penyebaran Virus Korona. Sejauh ini, Pemkab belum memberikan bantuan perlengkapan penanganan Korona. Padahal, sangat dibutuhkan seperti halnya termometer, hand sanitizer dan masker bagi pengunjung Masjid Agung.

“Kami tidak ada anggaran untuk itu, dan saat ini Masjid Agung juga dalam perbaikan,” ujar Hasan Munawar yang baru dilantik sebagai Ketua Yayasan Masjid Agung pada 27 Februari 2020 lalu.

Lebih lanjut dikatakan, perbaikan masjid yang dilakukan sejak beberapa hari lalu, yakni untuk listplang sepanjang 250 meter, perbaikan atap masjid, ruang WC, tangga masjid dan lainnya. Sejauh ini, pihaknya baru mendapatkan bantuan dari Baznas Kabupaten Tegal sebesar Rp 25 juta dan Yaumi Kabupaten Tegal sebesar Rp 50 juta dalam dua tahap pencairan. Padahal, perbaikan masjid dianggarkan Rp 396 juta.

“Tiga tahun terakhir, Masjid Agung tidak mendapatkan bantuan dari Pemkab Tegal. Selama ini, operasional dari infak dan sodaqoh para jamaah masjid,” ujarnya.

Ditambahkan, pihaknya terus berupaya untuk menggalang dana dari masyarakat agar renovasi masjid bisa berjalan. Yayasan telah membuat Unit Pengelola Zakat (UPZ) untuk menggalang dana dari infak, sodaqoh, dan sumbangan lainnya. Tidak hanya masyarakat yang tinggal di Kabupaten Tegal, namun orang Tegal yang tinggal di luar daerah.

“Masjid ini dibangun oleh masyarakat Kabupaten Tegal, bukan dari anggaran Pemkab Tegal. Jadi, kelangsungan Masjid Agung juga menjadi tanggungjawab bersama,” pungkasnya. (Wiwit-red03)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.