Perajin Kebasen Bertahan Dari Gempuran Produk Cina

0 22

TALANG – Produk logam asal Negara Cina membanjiri pasar nasional sejak beberapa tahun terakhir. Kondisi itu membuat para perajin logam di Desa Kebasen, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, kelimpungan. Pasalnya, produk Cina dijual lebih murah dengan kemasan menarik.

“Produk Cina lebih halus dan murah. Makanya, produk lokal kalah saing,” kata Kepala Desa Kebasen, Agus Sofwan, Selasa (17/3).

Sejak tahun 2010, kata dia, produk Cina membanjiri pasar nasional, para perajin di Kebasen banyak yang gulung tikar. Hingga kini, para perajin yang masih bertahan sekitar 100 perajin dengan jumlah tenaga kerja mencapai seribuan orang. Padahal, sebelumnya jumlah perajin lebih dari 100 perajin.

“Perajin lokal tetap bertahan melihat kualitas produk Cina. Ternyata, produk Cina tidak bisa bertahan lama, sedangkan produk lokal bisa lebih awet,” ujarnya.

Menurut dia, keunggulan produk lokal tersebut membuat perajin asal Kebasen masih tetap bertahan. Namun, persaingan antarperajin lokal juga membuat sejumlah perajin menghambat perkembangan perajin logam di Kebasen. Sejumlah perajin baru menurunkan harga secara drastis, sehingga perajin lama kehilangan pasar.

“Tidak ada kekompakan antarperajin, sehingga tidak bisa berkembang,” ujar Kades Kebasen yang baru dilantik pada Februari 2020 lalu.

Lebih lanjut dikatakan, perajin logam di Kebasen sebelumnya pernah membuat koperasi. Namun koperasi itu tidak berjalan, bahkan menyisakan sejumlah persoalan. Bantuan dari pemerintah cukup banyak untuk perajin Kebasen, namun terkendala tidak adanya koperasi atau perkumpulan lainnya. Selama ini, bantuan diberikan langsung kepada para perajin.

“Padahal, produk logam perajin Kebasen memiliki kualitas bagus. Namun, karena tidak kompak sehingga tidak bisa berkembang pesat. Jika mereka bersatu untuk membuat sejumlah produk unggulan, maka bisa laku dipasaran,” ujarnya.

Ditambahkan, kendati perajin Kebasen telah menjual produknya ke luar negeri, namun dilakukan secara individual. Pihaknya berharap para perajin bisa bersatu untuk menciptakan produk yang bisa dikenal pangsa pasar luas.

“Mungkin bila perlu dipatenkan, sehingga punya nama sendiri yang lebih dikenal masyarakat luas,” pungkasnya. (Wiwit-red03)

Leave A Reply

Your email address will not be published.