Dampak Virus Corona, Cemaskan Perusahaan Tekstil dan Farmasi di Jateng

Ketua Umum Kadin Jateng, Kukrit Suryo Wicaksono saat mengunjungi stand UMKM disela-sela acara pelantikan Dewan Pengurus Kadin Kabupaten Brebes, di Pendapa Kabupaten Brebes, Kamis (12/3). (smpantura.com/b.setiawan)

BREBES – Dampak virus corona yang kini menyebar di beberapa negara, termasuk Indonesia, kini mulai membuat cemas para pengusaha sektor tekstil dan farmasi di Jawa Tengah (Jateng). Hal itu lantaran bahan baku tekstil dan farmasi saat ini 50 persennya masih tergantung produk dari China.

Sementara, semua produk dari negara tersebut saat telah distop akibat virus corona. Bahkan, stok bahan baku pabrik tekstil dan farmasi yang ada di Jateng hanya cukup sampai April mendatang.

“Dari hasil kunjungan ke beberapa daerah di Jateng, kami mendapatkan info bahan baku untuk industri tekstil dan farmasi hanya sampai dengan April. Kondisi ini yang mulai membuat cemas para pengusaha,”
ujar Ketua Umum Kadin Jateng, Kukrit Suryo Wicaksono, usai melantik Dewan Pengurus Kadin Kabupaten Brebes, Kamis (12/3) di Pendapa Kabupaten Brebes.

Dari sisi usaha, ungkap dia, ada tiga sektor yang paling terdampak akibat penyebaran virus corona tersebut. Yakni, industri teksil, idustri farmasi dan industri pariwisata. Namun secara umum, dampak tersebut belum dirasakan di wilayah Jateng. “Hingga saat ini iklim bisnis di Jateng masih kondusif. Namun demikian, harus dipikirkan mulai saat ini jika dampak ini mulai dirasakan. Apalagi, khusus industri teksil dan farmasi ini, 50 persen bahan bakunya masih tergantung dari China,” ungkapnya.

Menurut dia, Kadin Jateng saat ini terus mencari solusi terkait bahan baku tekstil dan farmasi yang akan habis April mendatang. Pihaknya terus melakukan upaya untuk mencari bahan alternatif pengganti, sehingga tidak tergantung dari China.

“Kami saat ini masih terus mencari bahan pengganti untuk farmasi
dan tekstil ini. Bahkan, kami setiap hari duduk bersama untuk mencari solusi-solusi dalam mengatasi permasalahan ini,” jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, jika persoalan tersebut tidak segera dicarikan jalan keluarnya, dikhawatirkan akan berdampak buruk. Bahkan, bisa sampai pabrik tekstil atau farmasi berhenti berproduksi. Di sisi lain, perkembangan virus corona kedepannya belum diketahui pasti, apakah semakin membaik atau semakin memburuk. “Karena itulah, kami terus berupaya mencari solusinya,” tandas dia.

Dia menambahkan, di sektor pariwisata juga terkena dampak penyebaran virus tersebut. Sebab, saat ini banyak wisatawan takut berkunjung ke negara lain. Untuk itu, Kadin juga tengah mendorong tumbuhnya wisatawan lokal. “Yang jelas, saat ini bagaimana kita mencari solusi yang tepat untuk mengatasi persoalan ini,” pungkasnya.

(b.setiawan-red2)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.