Cegah Bullying, Bupati Ajak Bentuk Sekolah Ramah Anak

TANDA TANGAN: Bupati Tegal, Umi Azizah bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Kantor Kementerian Agama, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Jateng, serta Kepala Dinas P3AP2KB Provinsi Jateng foto bersama pada saat deklarasi Sekolah Ramah Anak Tingkat Kabupaten Tegal di Gedung Syailendra Hotel Grand Dian Slawi, Kamis (12/3).

SLAWI-Bupati Tegal Umi Azizah menyatakan keprihatinannya terhadap maraknya kasus perundungan atau bullying terhadap anak yang masih marak terjadi.

Untuk itu, demi mencegah kasus bullying terhadap anak di Kabupaten Tegal, Umi mengajak seluruh Kepala Sekolah dari TK, SD, SMP, MI, MTs sampai MA untuk membentuk sekolah ramah anak (SRA).

“Diharapkan dengan adanya sekolah ramah anak ini dapat mewujudkan pemenuhan hak dan perlindungan anak selama delapan jam anak di sekolah. Melalui upaya sekolah untuk menjadikan sekolah bersih, aman, ramah, indah, inklusif, sehat, asri dan nyaman,” kata Umi saat membuka acara Deklarasi Sekolah Ramah Anak di Kabupaten Tegal Tahun 2020 di Gedung Syailendra Hotel Grand Dian Slawi, Kamis (12/3) pagi.

Umi menyebutkan, data yang masuk ke Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Korban Kekerasan Perempuan dan Anak Kabupaten Tegal, kasus kekerasan mengalami penurunan. Pada tahun 2018 terdapat 101 kasus, sedangkan di tahun 2019 menjadi 97 kasus.

Untuk mencegah kasus kekerasan tersebut terulang, menurut Umi diperlukan peran dan sinergi antara sekolah melalui tenaga pendidik, keluarga dan masyarakat.

Diwujudkannya SRA, kata Umi, juga dilandasi oleh prestasi Kabupaten Tegal yang telah meraih predikat Kabupaten Layak Anak kategori Pratama secara berturut-turut pada tahun 2018 dan 2019.

“Sehingga untuk meningkatkan kualitas dan naik level ke tingkat berikutnya salah satu upayanya adalah dengan membentuk sekolah ramah anak,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Jawa Tengah, Retno Sudewi mengatakan kasus kekerasan berupa bullying pada anak di Jawa Tengah masih  tinggi.

Pada tahun 2018 terdapat 1.274 kasus dan tahun 2019 terdapat 1.225 kasus.

“Memang ini menurun, tapi hanya sedikit. Dan ini adalah data yang dilaporkan ke kami, yang tidak dilaporkan masih banyak,” tutur Retno.

Menurut Retno, kasus kekerasan pada anak paling tinggi terdapat di  Kota Semarang. Setidaknya terdapat 135 kasus kekerasan.

Untuk itu, Retno berharap kepada para guru di Kabupaten Tegal untuk dapat mendeteksi anak-anak yang rentan terhadap kejadian kekerasan berupa bullying.

Tah hanya membetuk SRA, Retno juga mengharapkan terbentuknya pesantren ramah anak dan taman ramah anak. Hal ini seperti diinginkan oleh anak-anak  saat Musrenbangwil di Kabupaten Brebes belum lama ini.

“Dalam Musrenbangwil kemarin,  anak-anak menyampaikan taman ramah anak yang sudah dibuat apakah ada pengawasnya? Kalau hanya dibuat taman dan tidak ada pengawasnya memungkinkan terjadi kekerasan. Karena kekerasan yang ada, menurut data adalah kekerasan seksual,”imbuhnya.

Kepala Dinas P3A2KB Ahmad Thosim melaporkan terdapat 354 sekolah di Kabupaten Tegal yang mengikuti deklarasi ini. Diantaranya tingkat TK sejumlah 5 sekolah, SD 217 sekolah, SMP terdapat 30 sekolah, RA sejumlah 34 madrasah, MI 45 madrasah, MTs 19 madrasah dan MA sebanyak 4 madrasah.

Thosim  berharap, di sekolah ramah anak nantinya terdapat ruang bagi guru, siswa dan praktisi untuk berbagi pengalaman. Bagaimana mewujudkan sekolah ramah anak dengan pendidikan nasional yang melindungi anak dari kekerasan, diskriminasi dan eksploitasi. (Sari/Red-06)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.