Peran Orang Tua Perlu Ditingkatkan

* 57,6 Persen Pelajar Mengakses Video Porno

PENGETAHUAN SEKS : Dosen D3 Kebidanan PHB Tegal saat menggelar pengabdian masyarakat, dan memberikan pengetahuan seks kepada ratusan pelajar SMA se-Kota Tegal, di Aula SMAN 5.(Foto : smpantura.com/Riyono Toepra-red07)

TEGAL – Direktur Politeknik Harapan Bersama (PHB Mc Chambali BEng EE MKom mengatakan, peran orang tua dalam menjaga keharmonisan hubungan atau komunikasi dengan anak yang sudah menginjak remaja, perlu ditingkatkan.

Hal itu berkait dengan berbagai penyimpangan perilaku yang dilakukan kalangan remaja, usia SMP maupun SMA, yang lepas dari pengawasan orang tua.

”Di era digital, era milenial sekarang ini, tentu peran orang tua sangat penting. Jaling komunikasi yang lebih baik, agar anak benar-benar membutuhkan pertimbangan dari orang tua,” ucap dia.

Dia mengungkapkan hal itu, antara lain, berkait data yang pernah disampaikan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tegal, tentang banyaknya pelajar yang mengonsumsi narkoba.

Juga hasil penelitian dua dosennya, tentang penggunaan media sosial (medsos) lewat telepon genggam berbasis android.

Dalam penelitian itu, terungkap, sebanyak 57,6 persen pelajar yang menjadi responden penelitian tersebut, ternyata sering mengakses video porno dari medsos.

Hasil penelitian yang dilakukan Dosen D3 Kebidanan perguruan tinggi itu, Meyliya Qudriani SST MKes dan Umriaty SST MKes, di sebuah SMA di Kota Tegal, diungkapkan saat menggelar pengabdian masyarakat, pertengahan bulan lalu.

Kurang Menyaring

Saat itu, kedua dosen tersebut berdialog dengan 114 pelajar SMA Kota Tegal, di Aula SMAN 5. Dia mengungkapkan, salah satu permasalahan yang mendasar dari berkembangnya medsos.
Terutama dalam menerima informasi, remaja cenderung kurang dapat menyaring informasi yang diterima secara baik dan bijak.

Contohnya saat menerima kontens berupa video porno dari teman atau di grup WA, instagram maupun facebook.

Mereka cukup serius memperhatikannya, dan terkadang langsung mengirimkan ke teman lainnya. Seharusnya perlu disaring lebih dulu informasi yang diterimanya.

”Meski banyak dari mereka tidak mengakses dari situs-situs pornografi, melainkan dari kiriman teman kedalam grup media sosial mereka. Hal ini menunjukkan akses terhadap pronografi saat ini sangat terbuka. Sehingga memberbesar kemungkinan perilaku seksual bebas dikalangan remaja”, terang Umriaty.

Kekhawatiran tersebut cukup mendasar diayunkan Umriaty. Sebab pengetahuan remaja tentang seks masih kurang.

Karena itulah dikhawatirkan akan terjadi penyimpangan seks akibat penggunaan medsos seperti itu.

”Jadi remaja memang perlu mendapat pengetahuan secara mendasar tentang berbagai hal berkait seks. Ada porsi-porsi tertentu tentang seks yang perlu diketahui remaja. Dengan demikian, ini diharapkan dapat berdampak pada perilaku yang lebih sehat, dan mengindari pergaulan bebas,” tandas dia.

Di kesempatan tersebut, kedua dosen D3 Kebidanan PHB Tegal, juga memberikan pengetahuan tentang penggunaan media sosial yang positif.

Antara lain, apa itu seks bebas dan dampaknya, serta beberapa penyakit yang dapat muncul akibat dari seks bebas.(Riyono Toepra-red07)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.