Ratusan Warga Cimohong Aksi Protes di Jalur Pantura

- Desak Banjir di Underpass Ditangani

Ratusan warga di Desa Cimohong, Kecamatan Bulakamba, Brebes, tengah melakukan aksi protes di jalur Pantura, untuk mendesak banjir di underpass ditangani, Sabtu (8/2) (SMpantura.com/b,setiawan)

BREBES – Ratusan warga di Desa Cimohong, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, menggelar aksi protes di jalur pantura Brebes-Tanjung, Sabtu (8/2). Aksi itu dilakukan lantaran akses jalan desa, khususnya di underpass selalu kebanjiran saat hujan deras turun. Akibatnya, akses ribuan warga menuju pusat kota terputus. Mereka mendesak banjir yang menggenangi underpass tersebut segera di tangani.

Kondisi Underpass Cimohong yang terendam banjir. (SMpantura.com/b.setiawan)
Kondisi Underpass Cimohong yang terendam banjir. (SMpantura.com/b.setiawan)

Dalam aksinya itu, ratusan warga berkumpul di titik lokasi banjir, yang berada tepat di tepi ruas pantura Brebes-Tanjung. Semula warga berniat melakukan aksi pemblokiran jalan nasional tersebut, tetapi niat mereka berhasil dicegah jajaran Polsek Bulakamba dan Polres Brebes. Sehingga, warga hanya berkumpul di tepi jalur pantura.

CEGAT MOBIL BUPATI
Ratusan warga tersebut juga sempat berusaha mencegat rombongan reli wisata dalam rangka HUT Brebes, yang diikuti Bupati Brebes Idza Priyanti dan Wakil Bupati Brebes Narjo. Namun upaya menghentikan Bupati tidak membuahkan hasil. Kendaraan jenis Toyota Alpard warna hitam yang membawa Bupati Brebes hanya memperlambat lajunya, meski ratusan warga sudah merangsek ke badan jalan. Ratusan anggota polisi di jajaran Polsek Bulakamba dan Polres Brebes diterjunkan untuk mengamankan aksi protes warga tersebut. Meski tidak melakukan orasi maupun membentangkan spanduk, tetapi aksi warga itu menyebabkan arus lalu lintas di jalur pantura Brebes- Tanjung tersendat.

Ratusan warga yang menggelar aksi tersebut, kemudian ditemui Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (PSDAPR) Kabupaten Brebes, Agus Azhari yang datang ke lokasi. Hadir juga menemui warga, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (Dinperwaskim) Taryono, Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Dani Asmoro dan Camat Bulakamba Sugeng Basuki. Mereka menggelar pertemuan dengan perwakilan warga di Balai Desa Cimohong.

“Kami melakukan ini sebagai bentuk protes. Sudah sejak 2012 lalu, setiap musim hujan underpass ini selalu terendam banjir. Dampaknya, mobilisasi warga lumpuh karena ketinggian air mencapai 1,5 – 2 meter. Kami mendesak agar masalah ini segera ditangani karena sangat menyengsarakan warga kami,” ujar Almuridin, salah seorang warga Desa Cimohong.

Menurut dia, genangan air di underpass itu terjadi karena saluran irigasi tidak lancar. Bahkan, saluran yang melintang di bawah jalur pantura mampet. Pihak desa sudah berulangkali mengusulkan adanya normalisasi saluran, termasuk yang mampet di bawah jalur pantura. Namun sampai saat ini belum juga direalisasikan. “Jalan di underpass ini akes vital warga. Jika kebanjiran seperti ini, motor dan mobil tidak bisa melintas. Pejalan kaki pun harus naik ke underpass melintas rel kereta api. Ini kan berbahaya, apalagi jalur relnya sudah ganda,” ungkapnya yang juga menjadi Perangkat Desa Cimohong.

Lebih lanjut dia mengatakan, saat underpass kebanjiran seperti saat ini, ada sekitar 4.000 jiwa di wilayah Cimohong selatan yang akses transportasinya putus. Ketika mengambil jalan memutar, juga tidak bisa dilalui kendaraan karena kondisi jalannya tanah. Saat musim hujan, jalan seperti lumpur. “Intinya, warga minta masalah banjir di underpass ditangani. Paling tidak saluran di bawah jalur pantura dinormalisasi, sehingga aliran air lancar,” tandasnya.

Kapala Desa Cimohong, Sodikin mengatakan, aksi yang dilakukan warganya itu spontas karena mereka sudah sangat kecewa, dengan penanganan masalah banjir di underpass yang lamban. Parahnya lagi bagi para siswa, saat berangkat sekolah mereka harus melepas sepatu. Padahal sekolah mereka masyoritas berada di kota kecamatan. “Kami sudah berulangkali meminta pemerintah agar masalah ini ditangani, tetapi belum juga direalisasikan. Padahal warga hanya minta saluran sekunder di underpass diperbaiki,” sambungnya.

Sementara Kepala DPSDAPR Kabupaten Brebes, Agus Azhari menjelaskan, ada dua solusi yang bisa dilakukan untuk menangani banjir di underpass Cimohong. Pertama, dengan mengontrol debit air di pintu air wilayah atas agar air yang masuk saluran tidak berlebihan. Kedua, dengan melakukan perbaikan saluran sekunder, termasuk normalisasi saluran yang berada di bawah jalur pantura agar tidak mampet. Untuk dua langkah itu, pihaknya langsung melakukan koordinasi dengan beberapa instansi terkait. Menggingat, kewenangannya berada di wilayah Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Pemali-Comal dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana.

“Kami ini langsung berkoordinasi dengan kedua instansi berwenang ini, agar bisa segera ditangani. Secepatnya, sedimen dan sampah yang menyumbat saluran akan dibersikan, sehingga air bisa mengalir,” terangnya. Hingga berita ini ditulis, warga bersama instansi terkait masih melakukan pertemuan di Balai Desa Cimohon.

(b.setiawan-red2)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.