Komunitas Sastrawan Tegalan Terbitkan 8 Buku

0 85

 

Tidak menggunakan uang rakyat, Komunitas Sastrawan Tegalan terbitkan 8 buku karya sastra serba Tegalan. Dua di antaranya kajian puisi-puisi Tegalan dan biografi “Lanang Setiawan Pelopor dan Penjaga Sastra Tegal”.

Hal itu disampaikan Presiden Penyair Tegalan, Dwi Ery Santoso, Jumat (17/1/2020).

Menurut Ery, sebanyak 8 buku sastra yang akan diluncurkan, yakni buku-buku yang bejudul antologi “Kur 267 Puisi Péndék Tegalan” karya bersama, kumpulan Wangsi (Wangsalan Puisi) “Ngopéni Tradisi Nganyam Puisi” karya Lanang Setiawan dan Dwi Ery Santoso.

Kemudian kumpulan Wangsi “Pada Baé Asuné” karya Dwi Ery Santoso, antologi puisi Tegalan “Tolak Bala” karya Dwi Ery Santoso, dan antologi puisi Tegalan “Luwak Wuluné Embé” karya Mohammad Ayyub. Sedang karya Muarif Esage yakni biografi “Lanang Setiawan Pelopor dan Penjaga Sastra Tegal”, “Membaca dan Memperlakukan Sastra Tegalan” dan “Puisi Tegalan Catatan Kemunculan dan Perkembangannya”.

Acara peluncuran akan digelar pada Minggu, 26 Januari 2020 bertempat di Waroeng Si Oz Kalibuntu Jl. Sumbing 20 Kota Tegal pada pukul 19.30 Wib. Tema yang diusung “Peluncuran 8 Buku Sastra Tegalan, Diskusi dan Jéd-jédan Kur 267”. Mengundang pembicara Dr. Maufur, Muarif Esage dengan moderator Bontot Sukandar

“Semua buku sastra Tegalan yang kami terbitkan bukan merengek pada anggaran pemerintah. Kami berusaha mandiri dan pantungan. Solusi kami mempertahankan gerakan sastra Tegalan ditempuh dengan jalan memasarkan produk buku-buku sastra kami,” katanya.

Ditegaskan, semua itu dilakukan agar karya sastra berbasis Tegalan tetap eksis. “Semua ini demi menaikan derajat bahasa Tegal yang selama ini dipinggirkan melalui gerakan sastra bukan semata bahasa. Karena, yang namanya sastra, menurut orang bijak adalah mahkota bahasa.”

Sementara itu pendapat Muarif Esage, penulis kritik sastra Tegalan, lebih tandas menandaskan, bahwa penyair-penyair Tegalan memperlihatkan sikap mereka untuk mempertahankan diri dan menilai lingkungan bahasa ibunya sebagai norma-norma yang harus dilindungi dari anggapan-anggapan yang diskriminatif.

“Sastra Tegalan adalah pemikiran, bertulang punggung penghayatan terhadap tradisi lokal khas Tegalan,” katanya.

Bertumpu pada hal tersebut, katanya lebih lanjut, amal terbilang istimewa jika Lanang Setiawan dan Dwi Ery Santoso melahiran genre baru puisi Tegalan yang dinamai Wangsi dan Kur 267.

Wangsi ini adalah gabungan dari wangsalan dan puisi. Tapi keduannya harus saling berkaitan. Sedang karya Kur 267 (Loro-Nem-Pitu) cara tuangnya terdiri dari 3 baris. Baris pertama terdiri 2 suku kata, baris ke dua 6 suku kata, dan baris ke tiga 7 suku kata.

“Menurut Lanang, salah satu pencetusnya, karya Kur 267 ini mengacu pada teknik penulisan haiku yang mempunyai 17 suku kata. Sedang Kur 267 mempunyai 15 suku kata. Di antara baris ke 1, 2, dan 3 harus saling berkaitan,” katanya.

Dinamai Kur 267, katanya lebih lanjut, angka 26 dimaknai sebagai penanda hari kelahiran “Sastra Tegalan” yang diperingati setiap tanggal 26 November. Adapun angka 7 dalam bahasa Tegalan dibaca “Pitu” dimaknai sebagai “pitulungan”.

“Dalam konsep yang lebih luas, tanggal 26 adalah “pitulungan” bagi kelangsungan masa depan bahasa Tegalan yang terpinggirkan untuk kemudian diperjuangkan dalam gerakan sastra Tegalan,” pungkas Muarif Esage yang kondang sebagai HB. Jassin Tegal (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.