Adab Dulu, Baru Ilmu…

* ”Sinau Bareng” Noe Letto

TEGAL – Ada hal menarik yang diletupkan Sabrang Mowo Damar, diskusi bersama mahasiswa Prodi D3 Farmasi Politeknik Harapan Bersama (PHB) Tegal, dalam rangka Dies Natalis Ke-12 prodi tersebut.

Di acara dengan konsep ”Ngobrol Karo Nglemprak” atau dialog sambil lesehan atau duduk-duduk di pelataran kampus itu, putra budayawan Emha Ainun Najib menegaskan betapa pentingnya sebuah adab.

”Ya kata Imam Syafi’i, hidup itu harus beradab. Kita pegang dulu adab. Baru kemudian menyerap ilmu. Jadi adab dulu, baru ilmu,” ucap Sabrang Mowo Damar, yang kerap disapa Noe Letto. Karena dia juga banyak dikenal sebagai vokalis dan pemain keyboard Band Letto.

BERSAMA PANITIA : Usai memberikan pencerahan, Noe Letto berfoto bersama panitia dari mahasiswa D3 Farmasi PHB, jajaran dosen dan pengurus yayasan.(Foto : smpantura.com/Riyono Toepra-red07)

Diskusi berlabel ”Sinau Bareng Noe Letto Sabrang Mowo Damar”, dan mengusung tema ”Menyembah Yang Esa, Menyayangi Yang Muda, Menghormati Yang Tua, Mengasihi Sesama”, pun mengalir dengan tanya jawab cukup menarik.

Pelantun ”Ruang Rindu” itu pun, kemudian membeberkan soal betapa banyak orang yang berbicara ilmu. Tetap kerap melupakan tentang adab. ”Ini yang sering terlupakan. Ilmu tanpa adab, sungguh membahayakan,” tandas Noe.

Sisi lain yang diletupkan di acara diskusi dalam rangka dies natalis prodi itu, yang bertepatan dengan Peringatan Ke-12 ”Hari Apoteker Sedunia” atau ”World Pharmacist Day”, sosok Noe Letto yang menjadi bintang tamu diskusi, mengingatkan tentang sebuah kompetensi.

”Kita tidak hanya butuh kompetensi. Tetapi pencapaian tertinggi dari ilmu adalah, kebermanfaatan untuk sekeliling dan masyarakatnya,” ucap dia.

Kebanggaan Kuliah

Pencerahan penting lainnya, disampaikan salah seorang alumni prodi itu, Kapten TNI Solichin dari RS DKT Pagongan, Kabupaten Tegal. Dia banyak memberikan pencerahan dan pembekalan penting bagi mahasiswa. Khususnya tentang kebanggaan kuliah di prodi tersebut.

Berbagai pesan-pesan penting yang disajikan Noe, Solichin maupun Khafdilah, banyak dinilai mahasiswa, merupakan kegiatan yang lebih mengerucut, sebagai pembekalan dan pencerahan civitas akademika. Khususnya dalam perjalanannya menimba ilmu di perguruan tinggi vokasi tersebut.

Ketua Prodi D3 Farmasi PHB Tegal Heru Nurcahyo MSc SFarm Apt mengatakan, ide yang digagas himpunan mahasiswa prodinya, dengan mendatangkan putra budayawan terkenal itu, cukup kreatif dan tepat.

”Karena proses belajar mengajar, juga butuh pencerahan dari seorang seniman, yang memiliki pandangan hidup, yang dapat dijadikan penyemangat. Variasi ini penting, agar proses kreativitas dalam menimba ilmu, menyerapnya dan mengembangkannya akan mendapat sesuatu yang berbeda. Insya Allah hasilnya juga akan lebih baik,” ucap dia.

Bahkan Ketua Yayasan Pendidikan Harapan Bersama Khafdilah MS SKom SH MH menambahkan, konsep pembelajaran lewat kegiatan kampus, dengan model dialog seperti itu, perlu terus dikembangkan. Baik tema maupun bentuk kegiatannya.

”Kampus juga harus akrab dengan seniman lainnya, penyair atau budayawan. Agar mahasiswa maupun dosen, mendapatkan pencerahan yang lebih baik, selain pencerahan dan pembekalan adab dari para ulama atau tokoh agama,” ucap dia.(Riyono Toepra-red07)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *