Teater Qi Pentaskan ” Langkah Kardinah ” – Adaptasi buku karya Yono Daryono

0 10

TEGAL – Teater Qi Tegal menggelar pementasan “Langkah Kardinah” di ruang Yayasan Universitas Pancasakti (UPS) Tegal, Minggu (1/12). Perhelatan didukung oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Dewan Kesenian Kota Tegal (DKT), Djarum Foundation, Suara Merdeka, SMpantura.com UPS Tegal, UKM-KSB UPS, Djong dan Spasi creatif. Pementasan yang dipenuhi penonton dari kalangan pelajar, mahasiswa, masyarakat dan seniman ini mendapat sambutan yang baik, hadir pada pementasan antara kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Johardi. Direktur Kardinah, dr Heri, rektor UPS, Yono daryono, Sisdiono, Wowok Legowo, Bontot Sukandar, Seful Mu’min, Wisnu Wijaksino dan berapa seniman luar Kota seperti Mamet Tegong, Asa Jatmiko, Venny, Rofi Aljoe, dan Faozan Suwage.

Menurut Ketua Teater Qi, Rudi Iteng, dengan tata panggung kertas surat surat beretebaran dan bergelantungan sebagai idiom cerita, cita dan mimpi Kardinah. Pementasan dengan menampilkan tiga pemain menggambarkan Kardinah saat remaja, dewasa, dan tua. Sedang dua penari sebagai visual cerita dari Kardinah yang dipadukan dengan musik menjadi kesatuan pementasan yang apik. “Lahir dan besar dalam keluarga Ningrat, tak lantas membuat Kardinah mati kepekaannya. Kardinah justru hidup-menghidupi pemikiran kritis dan perbuatan berani menentang feodalisme. Ia menaruh perhatian sangat besar terhadap kaum miskin,” katanya.

Dia mengemukakan, perjuangan yang dilakukan Kardinah didukung penuh oleh sang suami, RM Rekso Harjono, hingga terwujud sekolah, rumah sakit, bahkan panti jompo. Namun nasib baik tak selalu berpihak padanya. Kardinah dan orang-orang yang dicintainya didombreng, diarak sepanjang jalan seperti halnya binatang ternak. Ia merasa malu, sedih, dan marah, hingga trauma pada Kota Tegal. Karya pengabdian Kardinah yang paling besar adalah Rumah Sakit Kardinah, yang terletak di daerah Kejambon, Tegal. Awalnya bernama Kardinah Ziekenhuis, dan peletakan batu pertamanya pada tahun 1927 dilakukan oleh adik Kardinah, Soematri Sosrohadikoesoemo. Hingga 2 tahun sebelum Kardinah wafat, Kardinah menerima penghargaan dari Pemerintah RI pada tahun 1969 berupa “Lencana Kebaktian Sosial Republik Indonesia. “Kami mengambil tema tersebut karena sosok Kardinah bagi masyarakat Tegal pada khususnya dan Indonesia pada umumnya adalah pejuang kemanusiaan yang patut disebut sebagai pahlawan. Kami berharap dengan mengangkat sosok Kardinah dalam sebuah pementasan teater, masyarakat akan lebih mengetahui perjuangan Kardinah dan menyulut semangat generasi muda agar mencintai sejarah para pahlawan di daerahnya,” katanya.

Rudi Iteng menjelaskan, secara garis besar, pementasan dibagi menjadi tiga fragmen. Dalam masing-masing fragmen pemain dan penari menghadirkan peristiwa baik cerita, tari, maupun musik berdasarkan hasil bacaan buku Kardinah (Sebuah Biografi Pejuang Kemanusiaan), hasil interpretasi, maupun spirit Kardinah yang ditarik hadir ke masa sekarang. “Proses penciptaan didahului riset dengan melakukan teknik pengumpulan data yang diambil dari beberapa literatur yang ada tentang Kardinah, dokumentasi dan arsip tentang Kardinah, observasi lokasi-lokasi yang pernah disinggahi atau dibangun oleh Kardinah, dan wawancara dengan beberapa narasumber,” katanya.

Sementara menurut budayawan Tegal, Yono Daryono yang mengarang buku Kardinah – Sebuah Biografi Pejuang Kemanusiaan (1881-1971), Kardinah dengan bahasa nyata, yakni perbuatan, berhasil mengejawantahkan gagasan-gagasan Tiga Serangkai (Kartini, Kardinah dan Roekmini). Berdasarkan sejarah dan kearifan lokal yang dimiliki oleh Tegal tersebut.

Teater Qi lanjut dia, mencoba mengangkat perjuangan Kardinah menjadi sebuah pementasan teater. Teater Qi adalah kelompok teater yang didirikan oleh Rudi Iteng dan Rias Viri pada 29 Mei 2004 di Kota Tegal. Sejak saat itu pula puluhan garapan Teater Qi telah dipentaskan baik di dalam kota maupun di luar kota seperti Solo, Bali, hingga Kota Baru Kalimantan Selatan. Karya-karya yang dipentaskan antara lain KCDLL Karya Arifin Noer, Sutradara Rudi Iteng (2004), Drama Musikal “Rama Shinta” Karya Rias Viri, Sutradara Rudi Iteng (2014), hingga Geng Toilet Karya Sosiawan Leak, Sutradara Gendra Wisnu Buana (2019).

Penciptaan karya Teater Qi terus berupaya menghasilkan dialektika kritis dengan lingkungan sosial, politik dan budaya yang kreatif, sebagai bagian dari upaya untuk membangun masyarakat. Kali ini, Teater Qi mengajak untuk fokus mengangkat kehidupan dan perjuangan tokoh-tokoh lokal yang mempunyai pengaruh terhadap pergerakan nasionalisme bangsa. Berangkat dari situlah Teater Qi akan mengadakan pementasan teater “Langkah Kardinah”. (Wawan Hoed/Red1)

Leave A Reply

Your email address will not be published.