Hobi Mengkliping Lanang Untuk Pusat Dokumentasi Sastra Tegalan

 

TEGAL-Tak hanya menerbitkan beragam buku sastra Tegalan, seniman Lanang Setiawan (57) ternyata memiliki hobi mengkliping yang sudah dilakoninya sejak puluhan tahun lalu hingga sekarang.

Beragam artikel dari koran, majalah, tabloid dan sejenisnya khususnya pemberitaan sastra dan budaya, ia kumpulkan hingga ada ribuan lembar mengisi koleksi yang ia simpan di rumahnya.

Seniman asal Kota Tegal ini bahkan disebut sebagai salah satu “dokumentator” atau “pusat dokumentasi sastra” terlengkap dalam hal seni dan budaya yang berkaitan dengan sastra Tegalan. Hobinya itu sudah dilakoni sejak 1980-an.

Kegemarannya mengkliping berita-berita seni dan getolnya menerbitkan buku sastra Tegalan, yang menjadikan dirinya banyak diburu para mahasiswa yang datang dalam kota maupun dari luar Kota Tegal, bahkan mancanegara.

Setiap peneliti atau para mahasiswa yang ingin membuat skripsi, karya tulis, tesis maupun yang ingin melakukan kajian sebagai bahan disertasi untuk meraih gelar doktor, mau tidak mau Lanang lah yang dicari.

Entah apa yang melatari pria yang memiliki nama asli Slamet Setiawan kelahiran Tegal, 26 November itu begitu rajin membuat kliping. Kepada Suara Merdeka, Lanang banyak bercerita, sambil menunjukan sebagian koleksinya.

Menurutnya, jenis wakaf ada berbagai macam bentuk. Selain ada wakaf tanah, bangunan, ilmu yang bermanfaat, dan harta, mengkliping atau mendokumentasikan peristiswa atau pengetahuan untuk orang yang membutuhkan juga tergolong wakaf.

“Saya bukan tuan tanah. Tak mungkin mewakafkan sebuah bangunan atau sejengkal tanah. Harta saya adalah kliping dan terbanyak buku-buku yang berkaitan dengan sastra Tegalan dan seni budaya Tegal. Barang kali harta yang saya miliki inilah, yang bisa bermanfaat,” kata Lanang.

“Siapa pun yang membutuhkan literatur sastra Tegalan dan sejarah sastra dan teater Tegal tak bakal saya tampik. Dengan senang hati saya layani. Kliping-kliping saya ada yang berumur 40 tahun. Media massa tahun 50an, juga ada,” tambahnya.

Kliping-kliping budaya yang dia punyai kebanyakan berita-berita pementasan teater, baca puisi dan tak terhitung kegiatan pentas serba Tegalan.

Artikel dan buku-buku puisi berbasis sastra lokal, terdokumen rapi. Tak hanya berita sastra dan budaya, peristiswa sosial dan politik yang terjadi di kota-nya juga turut dikliping. “Ada ribuan kliping serba Tegalan yang saya dokumentasikan,” ujarnya.

Lanang berujar, ada beberapa mahasiswa yang sudah mendapat gelar sarjana dari bahan-bahan yang dia punyai. “Yang jelas sudah ada dua doktor. Richard Curtis dari Australia telah mendapat gelar doktor, sebagian bahannya dari dokumentasi kliping saya,” kata Lanang.

“Yang saat ini sedang menempuh doktor di Universitas Indonesia pun ada. Dina Nurmalisa, dosen Universitas Pekalongan yang tengah mengkaji puisi-puisi Tegalan untuk bahan kajian disertasinya dengan aspek kajian, struktur teks puisi Tegalan dan konstruksi identitas Tegal dalam tiga antologi puisi Tegalan. Insya Allah tahun ini gelar doktornya akan dia sandang,” ujar Lanang.

Lanang yang baru saja sukses menggelar Kongres Sastra Tegalan bersama sejumlah seniman lain, termasuk Doktor Maufur dari Komunitas Sastrawan Tegalan menambahkan, kebanyakan berita-berita sastra Tegalan yang dia dokumentasi dari bermacam media massa.

Ia menyebut paling banyak dari Harian Suara Merdeka. Kemudian harian lokal lainnya, serta terbitan ibu kota. “Kemudian ada ratusan berita seni yang ada di Surat Kabar Mingguan (SKM) Swadesi dimana saya pernah mengabdi sebagai wartawan budaya di mingguan yang terbit di Jakarta,” pungkasnya. (enn/red4)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *