Pemperintah Daerah Agar Perhatian Terhadap Karya Sastra Tegalan

* Rekomendasi Kongres I Sastra Tegalan

TEGAL – Kongres I Sastra Tegalan yang digelar di Auditorium Dariyoen Seno Atmodjo, Universitas Pancasakti (UPS) Tegal, Selasa (26/11), menghasilkan rekomendasi cukup menarik dan mendapat dukungan berbagai pihak.

Rekomendasi yang disusun Tim Perumus Kongres itu, yang diketuai Dr Maufur MPd, dengan anggota Drs Atmo Tan Sidik dan Hadi Utomo, menyatakan, pemerintah daerah, dalam hal ini adalah Pemerintah Kota Tegal (Pemkot Tegal) dan Pemerintah Kabupaten Tegal (Pemkab Tegal), harus ada perhatian terhadap suara sastra yang ditulis sastrawan dalam berbagai bentuk.

”Ya antara lain seperti puisi , wangsalan, naskah drama, syair balo-balo, syair lagu, cerpen, novel, prosa fiksi, suluk dalang, dan yang paling akhir adalah Wangsi alias Wangsalan dan Puisi,” tandas Dr Maufur, yang dikenal sebagai kolumnis cerita Tegalan yang dimuat di rubrik Warung Poci, Suara Pantura Suara Merdeka.

Sejarawan dan Penyair Wijanarto

Menurut alasan tim perumus, hal itu menjadi penting, karena di dalam sastra itu ada ide, gagasan, pemikiran, dan keinginan masyarakat Tegal. Sehingga pemerintah memiliki kewajiban, harus mengkuatkan agar karya sastra tersebut dapat menjadi lebih moncer.

Perhatian yang direkomendasikan sesuai hasil kongres tersebut, salah satunya, Sastra Tegalan agar dapat menjadi muatan lokal dalam pelajaran bahasa Jawa dialek Tegalan di kemudian hari.

Dorongan Sastrawan

Rekomendasi kongres selain menyentil peran pemerintah daerah (Pemda), juga memberi semangkat dan dorongan kepada para sastrawan di pesisir Pantai Utara tersebut.

Antara lain, para sastrawan selain tetap berkarya yang sifatnya inovatif, juga agar mengadakan regenerasi kepada kaum pelajar dan kaum muda.

Regenarasi itu menurut Dr Maufur MPd dinilainya penting. Selain dapat menjadi jembatan tetap menggelorakan berbagai bentuk karya-karya sastra Tegalan, menjadi lebih hidup lagi, juga menjadikan sastra Tegalan dapat terus dipertahankan hingga akhir zaman.

Budayawan dan sastrawan Atmo Tan Sidik dan Hadi Utomo menambahkan, untuk mempertahankan dan meningkatkan khasanah sastra Tegalan atau sastra di wilayah serumpun yang hampir memiliki logat sama, muatan lokal berupa pelajaran bahasa dengan dialek khas daerah perlu segera dilakukan.

”Kalau ini tak segera diwujudkan, bahayanya adalah secara pelan-pelan bahasa Jawa dialek khas suatu daerah, seperti dialek Tegalan bisa tergerus oleh arus zaman yang mudah meluncur deras, dan menerjang apa saja yang dilaluinya. Jadi ya harus disegerakan,” ucap dia.

Penyair dan sastrawan Tegalan lainnya, Haryo Guritno alias Kang Ye Ye menuturkan, meski telah pensiun dari PNS di Pemkot Tegal dan kini masih berkiprah mengajar di perguruan tinggi, dia tengah giat menyusun dukungan.

Yakni, agar bahasa Tegalan yang dituturkan lewat karya-karya sastra Tegalan dapat segera menjadi muatan lokal dalam pelajaran di sekolah. ”Ya ini upaya regenerasi yang efektif dan pemerintah daerah harus mendukungnya,” ucap dia.(Riyono Toepra-red07)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *