Sastra Tegalan Itu Indah, Unik dan Menarik

* Kongres I Sastra Tegalan

TEGAL – Sastra Tegalan yang menggeliat sejak 25 tahun terakhir, menurut peneliti bahasa dan sastra Tegalan Dina Nurmalisa Sabrawi, sebenarnya begitu indah, unik dan menarik.

Hal itu ditelupkan saat berbicara dalam diskusi di Kongres I Sastra Tegalan, atau dalam alih bahasa daerah tersebut menjadi ”Kongres Sastra Tegalan Kaping Siji”, yang digelar di Auditorium Dariyoen Seno Atmodjo, Universitas Pancasakti (UPS) Tegal, Selasa (26/11).

”Banyak hal unik dan menarik tentang bahasa maupun sastra Tegalan. Ini bisa dilihat dari puisi, cerpen maupun karya sastra lainnya. Ini fakta yang banyak saya temui atau dapatkan, saat meneliti puisi dan karya-karya sastra Tegalan, dalam penyusunan disertasi saya tentang puisi dan sastra Tegalan di Universitas Indonesia,” terang Dina Nurmalisa Sabrawi, yang juga dosen Unikal Pekalongan, dan kandidat doktor di Universitas Indonesia.

Dia di sesi kedua diskusi itu, mengusung makalah bertajuk ”Memosisikan Sastra Tegalan Sebagai Indentitas Budaya Tegal”. Selain dia, pembicara lainnya adalah sastrawan Jabar, Nurudin dengan makalah ”Semiotika Haiku Tegalan Autobiografi Lanang Setiawan”. Kemudian Muarif Esage dengan judul ”Eksternalisasi Puisi Tegalan Melampaui Batas Teks dan Konteks”.

Sastrawan dan Budayawan Atmo Tan Sidik yang menjadi moderator dalam diskusi sesi tersebut, pun menyentil bahwa sastra Tegalan, sebenarnya sudah dapat disejajarkan dengan sastra-sastra kedaerahan lainnya di tanah air, seperti Sastra Jawa, Sunda maupun Sumatera atau Melayu.

Kalangan Akademis

Sementara itu, di sesi pertama diskusi, kongres yang mengusung tema ”Sastra Tegalan Dalam Khasanah Kesusastraan Indonesia”, diisi pembicara dari kalangan akademisi UPS Tegal Dr Tri Mulyono, yang mengupas makalah ”Global Itu Lokal”.

Kemudian akademisi dari FIBUI Dr Suni Wasono dengan judul ”Hari Depan Sastra Tegalan”, yang kemudian menjadi judul buku kumpulan naskah diskusi kongres itu, yang dibagikan ke peserta.

MENYEMANGATI PEGIAT : Sejarawan Pantura dan pegiat seni kelahiran Tegal, Wijanarto, banyak menyemangati pegiat bahasa, seni dan sastra Tegalan, saat berbicara di Kongres I Sastra Tegalan, di Auditorium Dariyoen Seno Atmodjo, UPS Tegal, Selasa (26/11).(Foto :smpantura.com/Riyono Toepra-red07)

Sejarawan dan peneliti Pantura, kelahiran Tegal, Wijanarto yang juga pegiat sastra lokal Brebes dan Tegal, dan penulis essai di sejumlah media cetak, mengupas cukup dalam ”Sastra Tegalan : Keidentitasan, Revivalisme Kedaerahan”.

Pegiat seni Tegal, Suriali Andhy Kustomo yang menjadi moderator diskusi sesi pertama, pun banyak memuji paparan dua akademisi bidang bahasa dan sastra, serta pembahasan menarik yang disuguhkan Wijanarto.

Hal itu dikuatkan dengan ajakan Wijanarto kepada pegiat seni dan sastra Tegalan, untuk dapat lebih terbuka tampil di depan umum.

”Jangan malu dan ragu menggunakan bahasa Tegalan untuk membuat puisi, cerpen atau novel, maupun karya sastra Tegalan lainnya. Karena sastra Tegalan sudah membuktikan kualitasnya dan diakui di sejumlah daerah di tanah air. Bahkan sampai sejumlah negara seperti Australia, beberapa negara ASEAN, dan Eropa seperti Inggris dan Jerman.

Hasil Rekomendasi Kongres I Sastra Tegalan disajikan asli dalam bahasa khas Tegalan.

Banyak Hal

Musisi dan pencipta lagu tanah air, yang juga menciptakan lagu khas Tegalan, dan kerap menyuguhkan syair sastra Tegalan, Dhimas Riyanto mengatakan, banyak hal dapat dipetik dari gelaran kongres tersebut.

”Ini momentum untuk menguatkan ke publik bahwa sastra Tegalan ini ada dan layak disandingkan dengan sastra-sastra daerah lainnya. Hasilnya seperti apa dan arahnya bagaimana, tentu dapat disimak dari makalah yang dipresentasikan para pembicara, dan pertanyaan yang diayunkan dalam diskusi tersebut,” ucap dia yang juga Ketua Panitia Kongres I Sastra Tegalan, didampingi Sekretaris Lanang Setiawan.

Selaku penyelenggara, dia juga berterimakasih kepada UPS Tegal dan Yayasan Pendidikan Pancasakti (YPP) pengelola perguruan tinggi itu, yang mendukung kegiatan kongres, pegiat seni dan sastrawan di Pantura. Juga perhatian dari pemangku kebijakan seperti Wali Kota Tegal, Bupati Tegal dan sejumlah pejabat lainnya.(Riyono Toepra-red07)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *