Siswa SMP 1 Slawi Tolak Terorisme dan Radikalisme

DEKLARASI: Siswa SMP 1 Slawi, Kabupaten Tegal mendeklarasikan menolak terorisme dan radikalisme di halaman sekolah, Jumat (11/9).

SLAWI-Kasus penusukan yang menimpa Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto membuat prihatin banyak pihak. Termasuk para siswa SMP 1 Slawi, Kabupaten Tegal.Mereka pun menggelar deklarasi anti terorisme dan anti radiklaisme, Jumat (11/10).

Dalam deklarasi tersebut, puluhan siswa kelas 7 dan 8  membawa  poster  bertuliskan penolakan terhadap terorisme dan radikalisme.

Ketua OSIS SMP 1 Slawi, Duta Mutasya Khalifatul Ardi mengatakan, penusukan terhadap Menko Polhukam,  menunjukkan kekejaman teroris yang berdampak buruk bagi negara Indonesia. Sebagai pelajar dan warga negara Indonesia,  harus menjauhkan diri dari  pengaruh terorisme dan tindakan terorisme.

“Berbuat positif, hindari dan jauhi hal-hal negatif. Hati-hati dalam bergaul dan memilih teman. Kalau bergaul dengan orang yang baik, kita akan menjadi baik, sebaliknya kalau bergaul dengan orang yang tidak baik, maka kita bisa mengikuti hal yang tidak baik,”tutur Duta Mutasya.

Sementara itu, Kepala SMP 1 Slawi, Alfatah menyampaikan, dirinya turut prihatin  dengan peristiwa penusukan terhadap Menko Polhukam , Wiranto , yang terjadi di Menes, Pandeglang, Banten.  Seluruh warga sekolah menolak dan menentang aksi terorisme dan radikalisme.

“Kami sangat mendukung sekali kegiatan  OSIS SMP 1 Slawi yang hari ini melaksanakan deklarasi menolak radikalisme dan terorisme,”ungkap Alfatah.

Kepada para siswa, Alfatah berpesan pada siswa agar fokus pada kegiatan belajar dan tidak pengaruh dengan berita-berita negatif dari luar.

“Indonesia harus berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dan tetap menjunjung NKRI,”tuturnya.

Alfatah menyebutkan, SMP 1 Slawi menjadi piloting penguatan pendidikan karakter (PPK) SMP di Kabupaten Tegal, dan  karakter yang ditanamkan pada siswa adalah  nasionalis dan religius.

Dari awal masuk sekolah hingga pulang sekolah , karakter nasionalis dan religius  diajarkan  pada siswa. Begitu  tiba di sekolah, siswa diajak membaca kitab suci sesuai agama yang dianutnya,  dilanjutkan menyanyikan lagu-lagu Indonesia. Kemudian di akhir pelajaran menyanyikan lagu-lagu daerah untuk menanamkan nasionalisme.

“Pada setiap mata pelajaran juga  ada pembinaan karakter , termasuk ekstrakurikuler dan kokurikuler,”imbuhnya. (Sari/Red 6)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.