Brebes Masuk 10 Besar Daerah Tertinggi Angka Stunting di Indonesia

  • 12.500 Anak Bertubuh Pendek dan Sangat Pendek

BREBES – Jumlah kasus stunting di Kabupaten Brebes hingga kini masih tinggi. Bahkan, tingginya angka stunting itu juga mengantarkan Brebes masuk 10 besar daerah dengan angka stunting tertinggi di Indonesia. Atas Kondisi itu, kabupaten di ujung barat Provinsi Jawa Tengah tersebut kini menjadi fokus pemerintah pusat dalam penanganan stunting.

“Stunting, jumlah di Brebes masih tinggi. Ya, meski setiap tahun angkanya turun, tetapi masih tergolong tinggi. Bahkan, kita masuk 10 besar tingkat nasional untuk kasus stunting ini, dan menjadi fokus penanganan pemerintah pusat,” ujar Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes, dr Rudi Pangarsaning Utami, saat acara dialog interaktif Moci Bareng Karo Wane, Kamis (3/10).

Sesuai data yang ada, ungkap dia, di wilayahnya saat ini jumlah anak dengan tinggi badan pendek dan sangat pendek, atau masuk stunting sebanyak 12.500 anak. Kalau dibandingkan tahun-tahun sebelumnya memang mengalami penunurunan cukup segnifikan. Sebelumnya, jumlah anak stunting mencapai 30.000, atau 32,7 persen dari jumlah balita yang ada sekitar 125.000. “Kalau sekarang, kita posisinya di 11, 47 persen dari jumlah balita yang ada atau sekitar 12.500 anak. Untuk itu, kami terus gencarkan upaya penanggulangannya,” ungkapnya.

Menurut dia, banyak faktor yang menyebabkan anak menderita stunting. Namun sementara masyarakat hanya mengetahui jika penyebab stunting karena asupan gizi. Padahal hal itu hanya sebagai salah satu faktornya. Faktor lain yang lebih penting adalah pola asuh saat dalam kandungan hingga anak usia 2 tahun. Dalam kandungan misalnya, apakah ibu hamil selalu memeriksaan rutin kehamilannya. Kemudian, setelah lahir apakah bayi mendapat air susu ibu (ASI) ekslusif atau tidak. Tak hanya itu, faktor lingkungan juga mempengaruhi munculnya stunting. Misalnya, kondisi sanitasi yang buruk, pola hidup tidak sehat dan kebiasaan buang air besar sembarangan. “Data kami menyebutkan, faktor lingkungan ini berpengarung 27 persen dalam upaya menekan angka stunting,” jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, sebagai langkah pencegahan dini munculnya stunting, masyarakat bisa melakukan deteksi dini. Salah satunya, saat bayi perempuan baru lahir dengan tinggi badan kurang dari 47 sentimeter dan kurang dari 48 sentimeter untuk bayi laki-laki. Itu perlu diwaspadai akan munculnya stunting. Sedangkan untuk memastikannya, baru diketahu setelah anak berusia 2 tahun dan itu perlu pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter spesialis. “Dampak stunting ini sangat berbahaya, karena 15-20 tahun kedepan anak yang terkena stunting akan menjadi generasi bermasalah. Pertumbuhan otak dan tingkat kecerdasan akan terganggu. Kemudian, bisa juga mengalami gangguan metabilisme. Untuk itu penanganannya, kami fokus ke pencegahan, salah satunya melalui Gerakan Brebes Kawal Wong Meteng. Selain itu, pengawalan juga dilakukan sampai bayi lahir hingga 1000 hari kehidupan pertama atau selama 2 tahun,” pungkasnya.

(setiawan-red2)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.