SLAWI – Museum Situs Semedo di Desa Semedo Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Tegal kini semakin banyak diminati wisatawan dari berbagai daerah. Meski belum dibuka secara resmi, namun hampir setiap hari libur pengunjung hilir mudik untuk bisa menyaksikan langsung bangunan megah yang di dalamnya akan diisi berbagai hewan purba yang ditemukan.

Menurut penemu fosil Semedo, Dakri, saat pertama kali menemukan fosil banyak orang yang tidak percaya. Bahkan, sebagian besar warga membiarkan ketika melihat fosil yang mirip seperti batu-batu berserakan di hutan. Namun, karena rasa penasaran bebatuan tersebut kemudian dikumpulkan dan setelah diteliti para ahli ternyata fosil yang memiliki sejarah yang cukup penting. “Saya berharap keberadaan museum akan menjadi ikon wisata Kabupaten Tegal yang juga sekaligus menjadi pusat penelitian dan belajar sejarah,” katanya.

Fosil-fosil purba yang ditemukan di Semedo diperkirakan usianya lebih tua dibandingkan fosil-fosil yang pernah ditemukan di Indonesia. Dari hasil penelitian ahli paleontologi, arkeologi, geologi, dan antropologi, menunjukkan Situs Purba Semedo memberikan data faktual evolusi manusia, budaya dan lingkungannya sejak setidaknya 1,5 juta tahun yang lalu. Temuan-temuan fosil fauna di sekitar Perbukitan Semedo menggambarkan panjangnya rentang kehidupan di Semedo.

Selain itu, juga menunjukkan kompleksitas persebaran fauna besar, yang jarang ditemukan di bagian lain Jawa. Temuan fosil di Semedo terbilang sudah sangat banyak, yang sebagian di antaranya telah diinventarisasi dan diteliti ahli-ahli dari Puslit Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Yogyakarta, dan BPSMP Sangiran.

Fosil-fosil yang ditemukan sebagian besar merupakan temuan permukaan oleh warga, yang kemungkinan juga telah tertransportasi dari lokasi asalnya. Temuan-temuan penting itu meliputi fosil Stegodon, Mastodon, Bovidae seperti kerbau, banteng, sapi. Juga ada badak, babi, rusa, dan kuda air (kuda nil), dan Elephas Sp alias gajah purba. Fosil binatang laut dan sungai juga sangat banyak.

Pecahan koral sangat mudah ditemukan di permukaan tanah. Kerang dan keong umumnya ada di endapan lempung di bawah permukaan. Fosil gigi hiu juga ditemukan, mengindikasikan kehadiran predator laut di perairan Semedo. Sedangkan fauna sungai ada fosil rahang dan gigi geligi buaya. Khusus mengenai mata rantai gajah, Semedo memberi jawaban sangat menarik. Jika gajah Sumatra sekarang (Elephas Maximus Sumatraensis) dicari akar leluhurnya, semua ada di Semedo.

Di daerah ini, tiga spesies pendahulu gajah Sumatra pernah hadir sejak sekurangnya 1,5 juta tahun lalu. Dimulai Mastodon (1,5 juta tahun), Stegodon (0,8 juta tahun), dan Elephas sp (0,4 juta tahun). Ketiga gajah purba itu bermunculan tanpa terputus, hidup berdampingan dengan fauna lain, bahkan manusia purba homo erectus.

Kejutan terbaru Semedo, peneliti berhasil mengidentifikasi dua temuan spesimen mandibula (rahang berikut giginya) sebagai Gigantopitchus pada 2016. Kedua spesimen mandibula ini ditemukan 2014, dan tiga peneliti purba Sofwan Noerwidi, Siswanto dan Harry Widianto menyebutkan spesimen itu milik primata besar.

Sederhananya makhluk ini seperti Kingkong, karena ukuran rahangnya dua kali lipat dari primata umumnya. Tidak banyak temuan sejenis, kecuali satu di Cina yang saat ditemukan jadi koleksi sebuah toko obat, dan satu lagi di Afrika. (Wawan Hoed/Red1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *