Milad Makar di Rumah Yatim Santoaji Berlangsung Meriah

TEGAL-Acara setahun Milad Majelis Kajian Rutin (Makar) Kota Tegal yang dilaksanakan di Serambi Rumah Yatim Santoaji, Kelurahan Slerok, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal, berlangsung meriah, Selasa (6/8).

Acara malam itu menghadirakan Penyair Tegalan Atmo Tan Sidik, Apas Khapasi, dan group musik We Coustic, juga edukasi satwa dan foto yang diusung komunitas Animal Lovers Tegal (Alot).

Perhelatan ini digelar atas kerjasama Rumah Yatim Santoaji dan Bikers Subuhan Kota Tegal.

Ketua panitia Qplie Journa Art kepada wartawan menuturkan, acara ini dihadiri oleh anak-anak yatim, seniman, warga masyarakat setempat, para ustadz, dan anak-anak dari Bikers Subuhan.

“Acara milad ini memang spesialis. Kami yang biasa menggelar pengajian dan kajian, untuk malam ini menghadirkan para penyair Tegalan, musik dan komunitas edukasi satwa yang dipandegani Mbakyu Uchi Abdillah dari Kalinyawat Wetan,” ujarnya.

Menurutnya, sebelum acara hiburan dimulai, pada pukul 18.15 dilangsungkan yassin tahlil oleh anak-anak yatim setempat dipimpin ustadz Tsani.

Selanjutnya sambutan ustadz Fahrudin yang sehari-harinya bertindak sebagai pembina Rumah Yatim Santoaji. Terakhir ceramah inti dibawakan ustad Ghusni Darodjatun, M.Pd dan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng milad.

Sampailah pada acara hiburan, dibukan dengan penampilan group musik We Coustic dengan mengawali aksinya membawakan lagu Sepohon Kayu oleh vocalis Wulan.

Kemudian lagu-lagu reliji dan dilanjut lagu Tegalan berjudul “Garwo Pilihan” ciptaan Lanang Setiawan yang dibawakan vocalis Dhimas We Coustic dengan irama countri dan caca.

Entakan irama ini membawakan penonton terhanyut meresapi syair lagunya yang syahdu dan puitis.

“Ternyata lagu Tegalan mampu menghadirkan kata-kata puitis. Selama saya mencermati syairnya, perasaan merasa ada getaran lembut dan syahdu. Baru kali ini mendengar lagu Tegalan dengan syair yang puitis. Tidak seperti biasa lagu-lagu daerah yang saya dengan dengan lirik yang cengen dan main-main. Lagu Garwo Pilihan beda sekali. Susunan kalimatnya elok dan puitis,” ujar Mohammad Ayyub, salah satu seniman yang hadir.

Usai penampilan sesi pembukaan We Coustic, acara dilanjut dengan pembacaan puisi Tegalan oleh penyair Atmo Tan Sidik membawakan sajak berjudul “Warung Jaesing Kecukupan Sukure” karyanya.

Penampilanya cukup sanggup mendapatkan apresiasi dari pengunjung. Hal yang sama juga ketika penyair Apas Khafasi menderaikan sajak karyanya bertajuk “Puk Ipuk” dengan membawa botol plastik air minum yang diibaratkan sebagai seorang bayi yang sedang ditimang-timang.

Atmo Tan Sidik saat dikonfirmasi tentang kesediaan hadir di acara ini mengatakan, adalah kesepakatan bahwa seorang penyair jangan hanya lincah di jagat literasi, diskusi tanpa menindaklanjuti ke dalam dataran aksi dan kasih sayang pada anak-anak yatim.

“Sebagai wujud kasih sayang kepada anak-anak yatim, kami harus hadir. Di dalam Alquran surat Al Maun kita diamanatkan oleh Allah SWT jika kita tidak merangkul, menyayangi dan memesrai mereka, secara subtansi, kita ini sesungguhnya pendusta agama. Ini alasan kenapa kami sepakat wajib hadir dalam acara ini,” ujarnya.

Pungkas acara, gelar edukasi Satwan dan berswafoto anak-anak yatim dan warga setempat. Kemudian dilanjutakan penampil kembali lantunan lagu-lagu group musik We Coustik yang beranggotakan Izzy, Ade, Wendy, Keke, Dhimas dan Wulan dengan manager Uchi Abdilah hingga selesai. (Setyadi/Red4)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.