KH Muslih Khudhori : Saya Hanya Menerima Permintaan Foto Bersama

KAJEN – Ketua Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pekalongan, KH Muslih Khudhro menegaskan jajaran pengurusnya tidak pernah memberikan izin kepada organisasi yang mengatasnamakan dirinya Aman Palestin untuk melaksanakan kegiatannya di lingkungan NU, baik di lingkungan madrasah maupun pondok pesantren dan kantor NU Kabupaten Pekalongan.

Penegasan itu disampaikan oleh ulama kharismatik asal Buaran, Kabuapten Pekalongan di sela-sela menerima pengurus NU Kecamatan Wonopringgo yang mengklarifikasi mengenai beredarnya foto dirinya bersama pegiat Aman Palestin.
“Sehubungan dengan apa yang disampaikan bapak-bapak, terutama para pengurus MWC NU Wonopringgo beserta badan otonomnya seperti GP ANsor, Muslimat dan lainnya. Terkait masalah Aman Palestin, tamu Aman Palestin ke rumah saya. Dan saya terima sebagai tamu. Maka sebagai tamu, maka kita muliakan,” jelas Ketua PCNU Kabupaten Pekalongan, Kamis (25/7).

Pada kesempatan itu, di hadapan para pengurus MWC NU Wonopringgo juga dijelaskan latar belakang terjadinya adanya foto tersebut. Menurut KH MUslih Khudhori, sebagai wujud memuliakan tamu, maka permohonan permintaan foto bersama tentu sulit untuk ditolak.”Sebagai tuan rumah, karena tamu minta foto bersama dan saya belum mendalami betul serta diwaktu bersamaan juga masih banyak tamu di luar, maka saya menerima permintaan foto bersama dari Aman Palestin tersebut,” jelasnya.

Kemudian, sambung dia, sehubungan dengan permohonan Aman Palestin untuk bertemu anak-anak pondok santri, atau siswa aliyah maupun ingin bermain ke kantor NU. “Sudah saya nyatakan dan tidak saya izinkan. Jadi yang sifatnya ke luar, di luar pribadi saya tidak saya izinkan. Oleh karena itu agar semua organisasi yang ada di bawah NU, hendaknya satu visi misi untuk tidak gampang menerima siapapun yang barangkali tidak sejalan dengan akidah Ahlul Sunah Wal Jamaah,” sambung kiai kharismatik asal Buaran tersebut.

Bahkan, KH Muslih Khudhori telah menyampaikan kepada pegiat Aman Palestin apabila hendak masuk ke wilayah NU, seperti pondok pesantren, sekolah atau madrasah di bawah NU, maka mestinya ada surat izin tertulis dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta. Namun, lanjut kiai yang menggagas perguruan tinggi Institut Teknologi Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Pekalongan tersebut yang bersangkutan berujar tidak waktu untuk ke PBNU.

(Agus/ red38)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *