Take a fresh look at your lifestyle.

14.400 Balita di Brebes Stunting, Kenapa?

49

BREBES, smpantura.com – Sebanyak 14.400 anak di bawah lima tahun (balita) di Kabupaten Brebes kini mengalami stunting atau berhentinya pertumbuhan pada anak. Jumlah itu mengalami kenaikan signifikan dibandingkan 2019 lalu. Yakni, dari sebanyak 12.356 balita di 2019, naik menjadi 14.400 balita di tahun 2020. Dari data itu hingga kini sudah dalam penanganan dengan melibatkan lintas sektoral.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Brebes, dr Sartono menjelaskan, banyaknya temuan kasus balita stunting sepanjang tahun 2020. Temuannya, tersebar merata di 17 kecamatan. Rinciannya, Kecamatan Bulakamba sebanyak 1.498 kasus, Banjarharjo 1.213 kasus, Losari 1.198 kasus dan Tanjung 876 balita. Kemudian, Kecamatan Wanasari 871 kasus, Kersana 811 kasus, Bumiayu 796 kasus dan Paguyangan 785 kasus. Selanjutnya, Kecamatan Salem 719 kasus, Bantarkawung 666 kasus, Jatibarang 660 kasus, Larangan 637 kasus. Sedangkan di Kecamatan Brebes ada 597 kasus stunting balita, Songgom 546 kasus, Tonjong 491 kasus, Ketanggungan 294 kasus dan Sirampog 43 kasus. “Sepanjang tahun 2020, total ada sebanyak 124.215 balita di Brebes. Dari jumlah itu, balita yang ditimbang 119.583 anak dan 14.400 anak di antaranya mengalami stunting,” ungkapnya, kemarin.

Sartono mengungkapkan, ada sejumlah faktor kendala utama penyebab balita ini terkena stunting. Di antaranya, cakupan ibu hamil yang belum mendapatkan Fe (TTD) minim 90 tablet. Kedua, rendahnya cakupan kehadiran di Posyandu yang datang bagi ibu hamil ke empat. Ketiga, belum optimalnya cakupan ibu nifas dan kelas ibu hamil. Keempat, kurangnya cakupan keluarga mengikuti Bina Keluarga Balita. “Ini termasuk juga belum efektifnya konsolidasi perencanaan desa dan daerah, serta pelaporan konvergensi pencegahan stunting,” terangnya.

Dia menuturkan, untuk lebih mengoptimalkan sinergitas lintas sektoral dalam penanganan stunting. Pihaknya terus menggenjot sejumlah program dukungan pemerintah daerah untuk penguatan pencegahan stunting. Di antaranya, memaksimalkan advokasi stunting tingkat kabupaten, kecamatan hingga desa. Kemudian, memberikan pendampingan penyusunan SK Penanggulangan stunting di tingkat desa. “Kami juga memberikan pendampingan analisis permasalahan stunting di tingkat desa. Pelatihan kader pembangunan manusia, hingga pelatihan PMBA dan KIE stunting bagi kader, bidan, petugas gizi dan guru PAUD,” pungkasnya.

(T07-red)

BERITA LAINNYA